Sempat 2 Kali Gagal Masuk Unpad, Prakoso Kini Jadi Wisudawan Terbaik Program Doktor
JAKARTA, iNews.id - Kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ternyata, motivasi itu juga yang dipegang oleh Prakoso Bhairawa Putera hingga akhirnya menjadi wisudawan terbaik program doktor di Unpad.
Padahal, Koko, sapaan akrabnya sempat gagal dua kali masuk Unpad. Ia pun tak putus asa dan mencoba hingga akhirnya berhasil di kali ketiganya mencoba.
“Saya dua kali gagal masuk Unpad karena proposal studi yang saya ajukan tidak diterima oleh calon promotor di Unpad. Baru pada kesempatan ketiga, proposal saya disetujui dan saya daftar di Unpad,” kata Koko dikutip dari laman resmi Unpad, Selasa (16/5/2023).
Koko diketahui diterima menjadi mahasiswa program doktor Ilmu Administrasi FISIP Unpad pada tahun 2019. Ia lulus dengan IPK 4.00 dengan disertai berjudul 'Dinamika Kebijakan Sistem Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi (Sistem Iptekin) di Indonesia, Periode 1945-2021 (Policy Dynamics of Science, Technology, and Innovation System (STI System) in Indonesia Period 1945-2021)'
Kisah Inspiratif Anak Petani asal Brebes yang Diterima di 13 Kampus Top Luar Negeri
Menurut Koko, ia tertarik bergabung di Unpad karena adanya program doktor berbasis riset. Selain itu, para pendaftar juga diperbolehkan memilih sendiri calon promotor yang sesuai dengan rencana riset yang dilakukan aplikasi direktori dalam laman SMUP.
Kisah Inspiratif Anak Cleaning Service yang Bakal Kuliah di AS lewat IISMA
Tak cuma itu, kata pria yang lahir di Tanjung Pandan, pada 11 Mei 1984 ini, promotor juga bisa dihubungi secara jarak jauh sehingga memudahkan saat melakukan pengajuan persyaratan LoA.
"Bahkan, di kampus ini menawarkan sesuatu yang berbeda, yaitu penyelesaian disertasi dengan monograf/buku kumpulan artikel ilmiah. Hal ini tentu saja membuat saya tertarik untuk bergabung dengan program Doktor di Unpad,” tutur dia.
Kisah Inspiratif Anak Petani Karet yang Kini Jadi Guru Besar di PTN
Jatuh Bangun Koko Jadi Wisudawan Terbaik Unpad program Doktor
Meski proposal usulan risetnya sempat ditolak mentah-mentah oleh promotornya saat itu, langkah Koko untuk menuntut ilmu tidak pernah surut. Di tahun pertama, ia mengevaluasi proposal yang diajukan dan terus berdiskusi dengan para promotor.
Saat itu, promotornya menyarankan Koko untuk memperkaya referensi perihal persiapan riset, seperti bagaimana menyusun riset hingga menulis ilmiah dengan baik. Sempat berada pada situasi berat, Koko pun kembali menemukan hari-hari menyenangkannya.
Diakuinya, tahun pertama kuliah merupakan fase penempaan mentalnya. Kemudian, di akhir tahun pertama, ia bersama promotornya bisa berdiskusi soal rencana disertasi hingga akhirnya ia mampu memahami dan menyusun desain riset dengan baik.
Koko memilih menulis disertasi dengan metode monograf. Bersama promotor, ia menyusun rencana riset dan aneka topik yang bisa dijadikan artikel.
Proses ini kemudian menghasilkan 21 publikasi. Sebanyak 12 publikasi terindeks Scopus di Q1 hingga Q4, tiga publikasi terindeks EBSCO, empat publikasi terindeks lainnya, serta satu publikasi terindeks SINTA.
Ia juga berhasil menerbitkan buku kumpulan karya ilmiahnya terbitan Rajawali Press. Proses tersebut tidak lepas dari dukungan Unpad melalui Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat berupa fasilitas “proofreading service” dan juga bantuan “Article Processing Charge (APC)”.
“Para promotor saya sangat baik dan membantu, benar-benar saya merasa kami seperti tim riset, saling memberikan catatan dan masukan dari setiap proses yang saya jalani,” ucap Koko.
Saat ini, Koko merupakan peneliti bidang kebijakan dan administrasi yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurutnya, bidang tersebut merupakan kecintaannya.
“Berkali-kali menerima penolakan ketika submit artikel jurnal ataupun naskah buku, tetapi tetap terus semangat, ya karena cinta,” ujar Koko.
Editor: Puti Aini Yasmin