Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Teken Perjanjian Keamanan, PM Albanese Tawarkan Perwira TNI Tugas di Militer Australia
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah Lomba 17 Agustus, Nomor 3 Awalnya Bentuk Protes kepada Penjajah Belanda

Kamis, 17 Agustus 2023 - 11:24:00 WIB
Sejarah Lomba 17 Agustus, Nomor 3 Awalnya Bentuk Protes kepada Penjajah Belanda
HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus selalu dimeriahkan berbagai lomba setiap tahun. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Tanggal 17 Agustus diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia yang pada tahun ini menginjak usia 78 tahun. Puncak peringatan Hari Kemerdekaan selalu diwarnai dengan upacara pengibaran bendera. 

Tak hanya itu, masyarakat juga mengadakan berbagai perlombaan untuk menyemarakkan suasana 17 Agustus. Biasanya, lomba 17 Agustus yang selalu ada antara lain lomba balap karung, lomba tarik tambang, lomba panjat pinang, dan lomba makan kerupuk.

Aneka lomba tersebut tidak hanya sekadar permainan yang menghadirkan keseruan, namun terdapat sejarah serta filosofi yang melingkupinya. Berikut sejarah beberapa lomba untuk memeriahkan 17 Agustus. 

1. Lomba Tarik Tambang

Permainan tarik tambang di Indonesia hadir ketika masa penjajahan Belanda. Saat itu, tali tambang digunakan untuk menarik benda berat seperti batu dan lainnya.

Hal tersebut dilakukan oleh masyarakat atas perintah penjajah Belanda. Perlahan, orang-orang yang menarik tali tambang itu menjadikan aktivitas tersebut sebagai hiburan hingga muncul lah permainan tarik tambang.

Permainan ini membutuhkan lapangan yang agak luas agar dapat menampung dua kelompok peserta yang jumlahnya cukup banyak. Setiap tim minimal terdiri atas 5 orang yang akan berlomba menarik tali tambang yang panjangnya sekitar 30-50 meter.

Tim yang berhasil menarik tali tambang hingga membuat tim lawan masuk ke areanya merupakan pemenang lomba tarik tambang. Sementara, tim yang kalah merupakan tim yang berhasil terseret masuk ke wilayah lawan atau batas tengah. Permainan tarik tambang ini melatih kerja sama serta kekompakan tim. 

2. Lomba Panjat Pinang

Lombat panjat pinang juga mempunyai sejarah tersendiri. Panjat pinang adalah lomba yang dilakukan dengan memanjat pohon pinang yang sudah dikupas serta diberi cairan pelicin.

Pada bagian ujung pohon ini, terdapat beragam hadiah yang digantungkan. Peserta lomba akan berlomba memanjat pohon pinang demi mendapatkan hadiah yang menggantung di atas pohon. 

Diketahui, lomba panjat pinang sering digelar oleh Belanda pada sejumlah acara, seperti pesta ulang tahun, pernikahan hingga kenaikan jabatan. Selain itu, panjat pinang adalah salah satu kegiatan untuk memperingati hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau yang digelar pada 31 Agustus.

Saat itu, panjat pinang diikuti oleh orang pribumi saja. Sementara, orang Belanda menonton hingga tertawa melihat orang pribumi yang tengah memanjat pohon pinang.

3. Lomba Balap Karung

Balap karung merupakan permainan yang selalu dilombakan pada perayaan 17 Agustus. Di balik itu, terdapat sejarah balap karung yang menarik untuk diketahui.

Melansir laman dinaskebudayaan.jakarta.go.id, permainan balap karung sudah ada sejak zaman Belanda. Saat itu, balap karung dimainkan oleh kalangan anak berusia 6-12 tahun, hingga akhirnya orang dewasa pun turut serta dalam permainan balap karung.

Namun ada pendapat lain yang mengatakan balap karung berasal dari rasa kesal masyarakat Indonesia pada masa penjajahan yang tidak mampu membeli pakaian. Saat itu, terdapat orang yang harus menggunakan karung sebagai penutup tubuh. 

Mereka yang menggunakan karung memutuskan untuk menginjak bagian bawah karung dan berjalan melompat. Meski awalnya dilihat sebagai bentuk protes, kegiatan ini kemudian menjadi bentuk permainan.

Dalam lomba balap karung 17 Agustus, para peserta, baik anak-anak maupun orang dewasa masuk ke dalam karung dan memegang bagian ujung atas karung. Setelah itu, mereka melompat-lompat agar dapat mencapai garis finish.

4. Lomba Makan Kerupuk

Tak sekadar perlombaan 17 Agustus, lomba makan kerupuk mengandung sejarah terkait kondisi hidup masyarakat Indonesia pada suatu masa. Di era 1930-1940, kerupuk menjadi makanan andalan masyarakat.

Kerupuk juga identik dengan makanan rakyat kecil di masa perang supaya dapat bertahan hidup. Selanjutnya, ketika krisis ekonomi yang dibarengi dengan naiknya harga kebutuhan pokok, membuat kerupuk menjadi lauk pendamping. Kerupuk dipilih karena harganya yang cenderung terjangkau.

Pada 1950-an, muncul beragam lomba untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Makan kerupuk menjadi salah satu yang dilombakan.

Peserta lomba harus dapat menghabiskan kerupuk yang diikat tali dan digantungkan di atas kepala. Perlombaan makan kerupuk ini mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenang perjuangan pahlawan serta rakyat di masa penjajahan yang berada dalam kondisi sulit.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut