Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Pastikan THR ASN Cair Pekan Pertama Ramadan 2026
Advertisement . Scroll to see content

Salat Tarawih di Masjid Istiqlal 20 Rakaat, Menag Nasaruddin Umar Penceramah Pertama

Rabu, 18 Februari 2026 - 18:28:00 WIB
Salat Tarawih di Masjid Istiqlal 20 Rakaat, Menag Nasaruddin Umar Penceramah Pertama
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar. (Foto: Binti Mufarida)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar dijadwalkan menjadi penceramah pada saat penyelenggaraan salat tarawih perdana di Masjid Istiqlal, Rabu (18/2/2026). Salat tarawih akan berlangsung 20 rakaat serta 3 rakaat salat witir. 

Dilansir dari situs resmi, Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal akan menyampaikan ceramah dengan tema Ramadan Hijau. 

Terkait pelaksanaan salat, imam pertama akan memandu salat isya dan tarawih 8 rakaat. Sementara, imam kedua akan memandu salat tarawih 12 rakaat serta 3 rakaat salat witir.

Secara terpisah, Nasaruddin menjelaskan, tema tersebut akan dipararelkan dengan tema di Kementerian Agama yang digagas yakni echotheology.

“Jadi echotheology itu ini ada maknanya sangat fundamental ya. Karena kita sadar bahwa Tuhan itu kan lebih menonjol sebagai feminin God, lebih menonjol sebagai nurture. Nurture itu apa? Lembut, mendidik, mengasuh, membina ya,” ucap Nasaruddin kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

“Nah bukan sebagai Tuhan Maha pendendam, Mahakeras, dan Mahajantan, Mahastruggle. Nabinya pun juga lebih menonjol sebagai jamaliah, feminine prophet ya kan. Kitab sucinya pun juga menonjol sebagai kitab-kitab feminin, kitab penuh kelembutan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, tema tersebut juga bertujuan untuk mengembalikan fungsi agama yang bagaimana mengajak masyarakat untuk mencintai alam semesta.

“Karena tidak mungkin kita bisa menjadi hamba tanpa alam yang sehat. Tidak mungkin bisa menjadi khalifah yang baik tanpa alam yang sehat juga. Nah alam ini punya hak, manusia juga punya hak. Jadi kalau kita tidak menghargai haknya alam semesta, alam akan marah,” katanya.

“Nah apa jadinya kalau alam marah? Ya kan? Ada banjir, ada longsor, ada tsunami, ada macam-macam. Nah cara untuk menyelesaikan persoalan-persoalan fundamental ini kita harus lebih banyak kembali bagaimana kita bersahabat dengan alam. Jangan hanya menganggap alam ini sebagai objek tetapi itu partner untuk hidup bersama saling menguntungkan dan saling memperkuat satu sama lain," ujarnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut