Dia menilai keperkasaan dolar AS di pasar spot global berpotensi menyeret nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona paling kritis hingga penutupan bulan Juni ini.
Istana Bantah Baru Bergerak saat Rupiah Anjlok Rp18.000 per Dolar AS: Kita Rapatnya Intens
"Kemudian untuk indeks harga saham gabungan, kemungkinan besar ini akan menuju level terkritis, itu di Rp4.000 sampai akhir bulan Juni ini," tuturnya.
Purbaya Peringatkan Transaksi di Pelabuhan Harus Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
Ibrahim menyebut, kejatuhan kembar (twin drops) yang dialami oleh rupiah dan indeks bursa saham nasional saat ini digerakkan oleh faktor eksternal makro, yang diawali dari meletusnya konflik geopolitik skala besar di Timur Tengah serta sikap agresif kebijakan moneter bank sentral AS.
Penyerangan militer secara langsung oleh Amerika Serikat ke wilayah teritorial Iran di jalur logistik vital dunia telah memicu aksi balasan yang menyeret stabilitas ekonomi negara-negara sekutu.
Purbaya Jawab Keluhan Pedagang Tahu Tempe Imbas Rupiah Melemah
"Apa yang membuat Rupiah kemudian indeks harga saham gabungan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini diawali dari masalah geopolitik, kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika secara global, yaitu tentang memanasi situasi di Timur Tengah di mana Amerika melakukan penyerangan terhadap wilayah Iran di Selat Hormuz," ucap Ibrahim.
"Kemudian, Iran melakukan penyerangan terhadap sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama adalah di Kuwait dan Uni Emirat Arab yang membuat ketegangan terjadi kembali. Ini yang akan membuat peperangan di Timur Tengah, terutama adalah di Senat Hormuz akan semakin memanas," tuturnya.
Editor: Aditya Pratama