RI Raja Sawit Dunia, Wamentan Sebut 60 Persen Pasokan Global Dikuasai Indonesia
JAKARTA, iNews.id - Indonesia menjadi raja sawit dunia dengan penguasaan sekitar 60 persen pasokan global. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dalam acara Dialog Spesial bersama Pemimpin Redaksi iNews Aiman Witjaksono secara eksklusif.
"Sawit ini kan bisa jadi pangan, bisa jadi energi. Sawit kita, 60 persen sawit dunia itu berasal dari Indonesia," ujarnya dikutip Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, posisi strategis ini menjadikan Indonesia memiliki peran besar dalam menentukan arah pasar global, baik untuk kebutuhan energi maupun pangan.
Sudaryono menjelaskan bahwa sawit memiliki dua kekuatan utama, yakni sebagai sumber pangan dan energi. Hal ini menjadi dasar pemerintah untuk mendorong kemandirian nasional.
Dia menegaskan, pemerintah ingin memastikan ketahanan pangan dan energi tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.
Presiden: Ada Kelompok Nyinyir Kenapa Kelapa Sawit? Itu untuk Rakyat Kita!
"Kita mau tingkatkan swasembada itu merata di setiap pulau. Jadi kalau terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan, di pulau itu cukup pangan, di pulau itu cukup energi," katanya.
Menurutnya, strategi ini penting agar setiap daerah memiliki kemandirian dan tidak bergantung pada distribusi dari wilayah lain.
Mensesneg: 900 Hektare Kebun Sawit Ilegal Dikembalikan Jadi Hutan Konservasi
Program pemerataan ini disebut berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Banyak warga yang sebelumnya tidak bertani kini mulai beralih menjadi petani.
"Maka efeknya apa? Efeknya adalah terjadi pertumbuhan. Orang yang tadinya tidak bertani jadi bertani, jadi punya penghasilan," katanya.
Satgas PKH Kembalikan 4 Juta Hektare Kawasan Hutan Sawit dan Konservasi ke Negara
Contohnya di Papua, pemerintah mulai mendorong penanaman jagung dan padi guna menekan harga pangan yang selama ini tinggi.
"Sehingga yang beras sangat mahal di Papua. Kita harus ke Papua, kita harus menanam di Papua, menanam apa saja yang memang dibutuhkan untuk ketahanan di situ," ucapnya.
Sudaryono juga mengungkap strategi pemerintah dalam memperkuat energi berbasis nabati. Salah satunya melalui program biodiesel B50 yang memanfaatkan minyak sawit.
"B50 adalah diesel, solar. 50%-nya berasal dari minyak sawit. Jadi, biodiesel itu dari sawit," ujarnya.
Selain itu, pemerintah menargetkan penggunaan bioetanol sebesar 20 persen pada 2028. Bioetanol itu berasal dari singkong, tebu dan jagung.
"Kita menarget E20 di tahun 2028. Artinya 20% bensin kita itu kemudian kita substitusi dengan bahan nabati. Bioetanol ini buat bensin," ucapnya.
Jika target tersebut tercapai, Indonesia diyakini mampu mencapai swasembada energi tanpa perlu impor.
"Dan kalau sudah E20 etanol 20% dan B50 biodiesel 50%, kita swasemada, kita enggak impor lagi," katanya.
Keunggulan lain dari sawit adalah efisiensi produksi yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman lain seperti bunga matahari atau kanola.
Sudaryono menjelaskan, 1 hektare sawit mampu menghasilkan minyak setara dengan 15 hektare kebun bunga matahari. Efisiensi ini membuat harga minyak sawit lebih kompetitif di pasar global, sekaligus menjadi kekuatan ekonomi Indonesia dalam perdagangan internasional.
"Sawit ini kan bisa jadi pangan, bisa jadi energi. Sawit kita, 60% sawit dunia itu berasal dari Indonesia. Seluruh dunia ini 60% dari Indonesia," ucapnya.
Terkait isu lingkungan, Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah terus menindak tegas pelanggaran, termasuk kebun sawit ilegal di kawasan hutan lindung.
Dia menyebut, jutaan hektare lahan sawit ilegal telah disita oleh negara sebagai bagian dari penertiban kawasan hutan. Selain itu, pemerintah membuka akses transparansi bagi publik untuk memastikan bahwa pengelolaan sawit dilakukan sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan.
Editor: Donald Karouw