Pembelajaran Siswa Terhalang Pandemi, Begini Gigihnya Perjuangan Guru yang Tak Henti Berinovasi
JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 masih terus melanda Tanah Air dan memberikan dampak yang cukup besar di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) rupanya tak hanya menjadi tantangan bagi siswa, tetapi juga guru yang harus terus berinovasi.
Bukan tanpa alasan, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saat ini sangatlah bergantung pada koneksi internet untuk mengakses sejumlah aplikasi penunjang pembelajaran, seperti WhatsApp, Zoom, Google Meet, YouTube, dan sebagainya. Sementara itu, tak semua siswa memiliki fasilitas yang sama atas akses internet dan gadget yang mumpuni.
Situasi ini pun turut dirasakan oleh Elitha Aprilucilla, salah satu guru yang mengajar di SMA Negeri 3 Bandar Lampung. Dia mengaku telah mencoba berbagai cara untuk memaksimalkan pelaksanaan PJJ selama pandemi Covid-19 ini.
“Selama PJJ banyak keluhan dari murid yang kesulitan untuk memahami materi yang kami (guru) ajarkan secara online,” katanya.
Elitha pun berinisiatif dengan mengemas materi pembelajaran ke dalam bentuk video dan games ringan. Hal ini semata-mata agar murid tak bosan, dan bisa dengan mudah memahami materi yang diajarkan meski tak saling bertatap muka secara langaung.
Tentunya ini bukan berarti hal yang mudah baginya. Kesenjangan generasi antara Elitha dan murid-muridnya, membuat guru yang satu ini terus belajar dan mencoba menyesuaikan dengan pesatnya kemajuan teknologi yang ada.
“Sampai saat ini, saya masih terus belajar bagaimana caranya supaya murid bisa tertarik untuk belajar online, bagaimana pun situasinya. Kami harus bisa mengikuti perkembangan zaman dan tetap berfokus pada peserta didik,” ujarnya.
Elitha bahkan meluangkan waktu khusus bagi muridnya yang ingin menghubungi langsung untuk bertanya seputar materi dan tugas yang masih belum mereka pahami. Sementara untuk murid yang kesulitan mengakses internet karena kendala sinyal dan keterbatasan kuota, dia dan para guru lainnya bersepakat untuk tetap memberikan kelonggaran dalam pengumpulan tugas.
“Kalau ada siswa yang kurang paham dan mau bertanya, saya bolehkan untuk menghubungi saya langsung secara pribadi melalui chat atau telepon. Sementara yang susah sinyal dan tidak punya kuota internet, kami beri kelonggaran untuk tetap mengumpulkan tugas walau terlambat,” ucapnya.
Kendala dalam proses PJJ pun kerap dirasakan oleh salah satu guru di SDN Bekasi Jaya XIII Kota Bekasi bernama Netty Fauziyah. Kekuatan sinyal yang kerap naik turun menyebabkan suara dan gambar yang ditangkap selama KBM tidak terlalu jelas.
Belum lagi, murid-muridnya yang cenderung masih terlalu belia kerap membuatnya merasa kesulitan menyampaikan materi. Tidak semua siswa terbiasa berkomunikasi dengan guru secara tidak langsung, sehingga seringkali mereka tidak dapat benar-benar menyimak penjelasan yang diberikan oleh Netty.
“Kita tidak memiliki waktu yang panjang untuk siswa. Karena kalau terlalu panjang mereka jenuh. Mereka hanya melihat layar. Kalau di kelas, mereka dapat menyaksikan guru langsung, kadang diselipi candaan. Jadi, meski dalam waktu panjang, siswa akan menikmati saja,” katanya.
Tak hanya guru, keluhan pun datang dari para murid yang merasa metode pembelajaran seperti ini kurang efektif. Mereka mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyimak materi di layar monitor.
Menanggapi situasi ini, Netty juga mencoba membuat video-video pembelajaran serta bahan ajar yang menarik untuk siswa, misalnya melalui permainan-permainan yang seru. “Kita mengajarkan berhitung melalui metode games. Biasanya anak-anak akan suka dan dapat cepat menangkap materi bahasannya,” ucapnya.
Pandemi nampaknya memang mengharuskan guru untuk lebih kreatif dalam menyiapkan materi dan bahan ajar. Kemudian, juga meluangkan waktunya lebih lama setiap harinya untuk memeriksa dan memberikan penilaian.
Menilik proses PJJ di daerah Cirebon, Aishah Fitra yang merupakan seorang guru SDN 1 Sumber Lor, Kecamatan Babakan mengaku bahwa PJJ nyatanya tak berjalan cukup efektif. Meski lokasinya mengajar memiliki akses sinyal yang bagus, sayangnya tidak semua siswa atau orangtua siswa memiliki telepon pintar.
“Kalaupun punya HP, banyak juga dari mereka tidak memiliki paket data,” katanya.
Oleh karena itu, dia pun kerap mendatangi satu per satu rumah anak didiknya. Hal ini, menurut Aishah, dilakukannya agar sang murid tidak tertinggal pemahamannya, antara satu dengan yang lainnya. Tentunya, Aishah tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada.
“Saya datangi rumah mereka satu persatu. Saya berikan tugas, lalu dikumpulkan,” ucapnya.
Begitulah kisah perjuangan guru di berbagai penjuru wilayah Tanah Air yang masih terus berusaha memberikan pembelajaran terbaik bagi anak didiknya. Meski terkendala berbagai hal, mereka tetap memegang teguh prinsip bahwa pendidikan harus terus berjalan dengan baik, bagaimana pun situasinya.
Elitha, Netty, Aishah merupakan beberapa sosok guru yang tengah berjuang saat ini. Tentunya masih banyak guru lainnya di seluruh penjuru wilayah Tanah Air yang tak kenal lelah menerobos segala keterbatasan agar siswa-siswi di Indonesia mendapatkan akses pembelajaran yang sama.
(CM)
Editor: Rizqa Leony Putri