Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Puspadaya Perindo Kawal Kasus Anak Korban Child Grooming hingga Tuntas: Kami Tak Pernah Tinggalkan Korban Sendiri
Advertisement . Scroll to see content

Pelaku Child Grooming Divonis 8,5 Tahun Penjara, Puspadaya Perindo Ingatkan Modus Baru Kekerasan Seksual

Selasa, 14 April 2026 - 13:56:00 WIB
Pelaku Child Grooming Divonis 8,5 Tahun Penjara, Puspadaya Perindo Ingatkan Modus Baru Kekerasan Seksual
Sekretaris Jenderal Puspadaya Perindo, Amriadi Pasaribu (kiri) di PN Jakarta Timur. (Foto: Achmad Al Fiqri)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur menjatuhkan vonis 8 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp1 miliar terhadap terdakwa kasus kekerasan seksual dengan modus child grooming. Putusan tersebut dinilai menjadi alarm keras bagi masyarakat akan bahaya modus baru kejahatan seksual yang kini tidak lagi menyasar fisik, melainkan psikologis anak melalui media sosial.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Puspadaya Perindo, Amriadi Pasaribu menyatakan pihaknya telah menerima salinan putusan lengkap dari PN Jakarta Timur. Dia mengapresiasi putusan berat yang dijatuhkan majelis hakim, namun juga menyoroti fenomena kejahatan ini sebagai perkara yang terstruktur, masif, dan manipulatif.

“Hari ini kita sudah mengambil salinan putusannya lengkap, yaitu dengan putusan penjara 8 tahun 6 bulan dan denda Rp1 miliar,” ujar Amriadi saat ditemui di PN Jakarta Timur, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, kasus ini membuktikan adanya pergeseran pola kejahatan seksual terhadap anak. Jika sebelumnya kekerasan lebih bersifat fisik, kini pelaku menggunakan manipulasi psikologis yang canggih untuk menjerat korban.

"Alarm yang keras kepada masyarakat agar hati-hati bagi orang tua yang memiliki anak agar tidak terjadi lagi seperti ini. Baik juga seluruh anak-anak Indonesia, ini adalah alarm keras bagi kita, karena pola-pola kekerasan yang dulu adalah kekerasan fisik, dan sekarang ini bukan lagi seperti itu," kata dia.

Dia menjelaskan, modus terbaru ini sering kali diawali dengan pendekatan pertemanan di sekolah, kemudian berlanjut melalui pertukaran akun media sosial seperti Instagram. Pelaku secara perlahan memanipulasi korban hingga terjebak dalam lingkaran kekerasan.

"Dan kejahatan-kejahatan inilah yang terbaru dan sudah terbukti, putusan itu, dan dalam persidangan terbukti kelakuan-kelakuan manipulasi, kemudian kejahatan-kejahatan mereka itu sudah memiliki pola-pola terbaru," ucap Amriadi.

"Jadi kami menghimbau kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak Indonesia, agar lebih berhati-hati dengan berteman, baik itu melalui media sosial ataupun teman-teman yang dekat yang belum tahu latar belakangnya," tuturnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut