Pelaku Child Grooming Divonis 8,5 Tahun Penjara, Puspadaya Perindo Ingatkan Modus Baru Kekerasan Seksual
JAKARTA, iNews.id - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur menjatuhkan vonis 8 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp1 miliar terhadap terdakwa kasus kekerasan seksual dengan modus child grooming. Putusan tersebut dinilai menjadi alarm keras bagi masyarakat akan bahaya modus baru kejahatan seksual yang kini tidak lagi menyasar fisik, melainkan psikologis anak melalui media sosial.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Puspadaya Perindo, Amriadi Pasaribu menyatakan pihaknya telah menerima salinan putusan lengkap dari PN Jakarta Timur. Dia mengapresiasi putusan berat yang dijatuhkan majelis hakim, namun juga menyoroti fenomena kejahatan ini sebagai perkara yang terstruktur, masif, dan manipulatif.
“Hari ini kita sudah mengambil salinan putusannya lengkap, yaitu dengan putusan penjara 8 tahun 6 bulan dan denda Rp1 miliar,” ujar Amriadi saat ditemui di PN Jakarta Timur, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, kasus ini membuktikan adanya pergeseran pola kejahatan seksual terhadap anak. Jika sebelumnya kekerasan lebih bersifat fisik, kini pelaku menggunakan manipulasi psikologis yang canggih untuk menjerat korban.
Puspadaya Perindo Dampingi Sidang Putusan Kasus Pencabulan Anak di PN Jaktim
"Alarm yang keras kepada masyarakat agar hati-hati bagi orang tua yang memiliki anak agar tidak terjadi lagi seperti ini. Baik juga seluruh anak-anak Indonesia, ini adalah alarm keras bagi kita, karena pola-pola kekerasan yang dulu adalah kekerasan fisik, dan sekarang ini bukan lagi seperti itu," kata dia.
Dia menjelaskan, modus terbaru ini sering kali diawali dengan pendekatan pertemanan di sekolah, kemudian berlanjut melalui pertukaran akun media sosial seperti Instagram. Pelaku secara perlahan memanipulasi korban hingga terjebak dalam lingkaran kekerasan.
Puspadaya: Memutus Rantai Kekerasan Anak di Ruang Digital Perlu Upaya Preventif dan Kuratif
"Dan kejahatan-kejahatan inilah yang terbaru dan sudah terbukti, putusan itu, dan dalam persidangan terbukti kelakuan-kelakuan manipulasi, kemudian kejahatan-kejahatan mereka itu sudah memiliki pola-pola terbaru," ucap Amriadi.
"Jadi kami menghimbau kepada masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak Indonesia, agar lebih berhati-hati dengan berteman, baik itu melalui media sosial ataupun teman-teman yang dekat yang belum tahu latar belakangnya," tuturnya.
Editor: Aditya Pratama