Megawati Hadir di Upacara Hari Lahir Pancasila, Jokowi dan SBY Tak Tampak
JAKARTA, iNews.id - Presiden Prabowo Subianto memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Senin (1/6/2026) pagi. Terpantau Presiden ke-5 RI Megawati Sukarnoputri hadir.
Berdasarkan pantauan di lokasi Senin (1/6/2026), Megawati mengenakan pakaian bernuansa merah muda. Kemudian, ada juga Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), istri Wapres RI ke-9 Hamzah Haz, Soraya Hamzah Haz.
Sementara itu, tak terlihat kehadiran Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Selain Presiden dan Wapres terdahulu, turut hadir jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua-Wakil Ketua DPR-MPR.
Sebelumnya, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) juga mengundang mantan Presiden dan Wapres sebelumnya.
“Ini bagian dari proses membangun gotong royong bersama, kolaboratif semuanya, semua Presiden maupun Wakil Presiden pastinya kita undang semuanya,” kata Sekretaris Utama BPIP Tonny Agung Arifianto kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Meski begitu, ia belum menjelaskan secara rinci Presiden dan Wapres terdahulu siapa yang sudah mengonfirmasi kehadiran pada Upacara tersebut.
“Nanti tepatnya di hari Sabtu besok kepastian terkait konfirmasi siapa saja yang hadir nanti akan kami sampaikan pada media semuanya ya,” ujar dia.
Di kesempatan yang sama, Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengatakan perayaan Hari Lahir Pancasila 1 Juni merupakan momentum kebangkitan bersama. Yudian mengajak masyarakat menjadikan Pancasila sebagai living ideology atau nilai-nilai hidup.
"Kita mengajak seluruh elemen bangsa, terutama para pemuda, untuk menjadikan Pancasila sebagai living ideology yaitu nilai-nilai yang hidup dan dihayati masyarakat, serta sebagai working ideology yaitu nilai yang diterapkan dalam penyelenggaraan negara," ucapnya.
Dia turut mengajak masyarakat untuk menyemarakan Hari Lahir Pancasila melalui media sosial. Hal itu dilakukan agar Pancasila tidak hanya menjadi tulisan di dinding atau teks dalam buku sejarah.
Editor: Puti Aini Yasmin