Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Terkoreksi ke Rp16.828 per Dolar AS
JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan, Kamis (12/2/2026). Rupiah terkoreksi 42 poin atau sekitar 0,25 persen ke level Rp16.828 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu bahwa mereka tidak mencapai kesepakatan "pasti" tentang bagaimana melanjutkan negosiasi dengan Iran, tetapi dia menegaskan negosiasi dengan Teheran akan berlanjut.
Pada hari Selasa, Trump mengatakan dia mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan tidak tercapai dengan Iran, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap untuk melanjutkan pembicaraan.
“Para diplomat AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung pekan lalu di Oman. Tanggal dan tempat putaran pembicaraan AS-Iran berikutnya belum diumumkan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Rupiah Sepekan Ambles 0,53 Persen, Ini Penyebabnya
Sementara, laporan pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat ini mengurangi urgensi untuk pemotongan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat dan dapat memberikan dukungan kepada Dolar AS dalam jangka pendek.
Dari sentimen domestik, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti.
Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp16.876 per Dolar AS
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka ini melonjak Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp3.451,4 triliun.
Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp693 triliun. Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar dialokasikan untuk pembayaran bunga utang yang mencapai sekitar 19 persen. Angka ini belum termasuk cicilan pokok utang pemerintah.
Selain utang, belanja besar juga dialokasikan untuk program makan bergizi gratis melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dengan porsi 8,51 persen. Selanjutnya, anggaran Kementerian Pertahanan dan TNI mencapai 5,94 persen, serta anggaran Polri sebesar 4,63 persen.
Di sisi lain, upaya mengejar penerimaan negara dinilai tidak mudah. Pemerintah mematok defisit anggaran sebesar Rp689,14 triliun atau setara 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.820-Rp16.850 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama