Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Polda Jabar Buka Call Center! Cari Korban Lain Penganiayaan Taufik Hidayat
Advertisement . Scroll to see content

Kasus Penganiayaan Pacar di Bandung Viral, Psikolog Ungkap Faktor Korban Bertahan 3 Tahun

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:13:00 WIB
Kasus Penganiayaan Pacar di Bandung Viral, Psikolog Ungkap Faktor Korban Bertahan 3 Tahun
Ilustrasi penganiayaan seperti yang terjadi di Bandung. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap kekasihnya, YTR, selama tiga tahun di Bandung terus menyita perhatian publik. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana korban bisa bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan selama bertahun-tahun.

Menurut Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, kondisi tersebut bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Dari sudut pandang psikologi, fenomena ini sangat mungkin berkaitan dengan abusive relationship atau hubungan yang dipenuhi kekerasan. 

Artinya, salah satu pasangan memiliki kontrol yang sangat dominan terhadap pasangannya. 

"Kalau dari kacamata psikologi, kasus ini bisa dilihat sebagai abusive relationship, terutama physical abuse atau kekerasan fisik. Hubungan tersebut sudah berada pada titik yang memang penuh dengan kekerasan," kata Stephani saat dihubungi iNews.id, belum lama ini.

Stephani menjelaskan, hubungan yang abusif tidak selalu dipenuhi kekerasan setiap saat. Justru, hubungan semacam ini memiliki pola berulang yang dikenal sebagai cycle of abuse atau siklus kekerasan.

Pada awal hubungan, pasangan biasanya merasakan fase romantis atau honeymoon phase, ketika semuanya terasa menyenangkan. Setelah itu mulai muncul perilaku kasar yang awalnya mungkin hanya berupa bentakan, tamparan, atau bentuk kekerasan ringan. 

Ketika korban mulai terluka, pelaku kemudian meminta maaf, menunjukkan penyesalan, hingga kembali bersikap sangat perhatian. Situasi tersebut membuat korban percaya bahwa pasangannya telah berubah sehingga memilih bertahan. 

Tapi, setelah hubungan kembali membaik, kekerasan justru muncul lagi dengan intensitas yang semakin meningkat. Ini yang perlu diperhatikan. 

"Biasanya memang ada fase rekonsiliasi, pelaku meminta maaf, kemudian hubungan kembali mesra. Setelah itu kekerasan terjadi lagi. Siklus seperti ini terus berulang, sehingga hubungan bisa bertahan sampai bertahun-tahun," ujarnya.

Menurut Stephani, eskalasi kekerasan dalam hubungan abusif umumnya berlangsung secara bertahap. Korban mungkin awalnya hanya mengalami kekerasan ringan, tetapi lama-kelamaan bentuk kekerasan menjadi semakin berat.

"Awalnya mungkin hanya ditampar, kemudian pelaku meminta maaf. Berikutnya bisa meningkat menjadi dipukul, lalu kembali meminta maaf. Lama-kelamaan eskalasinya akan semakin tinggi, tetapi korban tetap bertahan karena siklus hubungan yang terus berulang," jelasnya.

Ia menambahkan, fase-fase romantis setelah kekerasan menjadi salah satu alasan utama korban sulit melepaskan diri. Pelaku kerap mengajak korban berdamai, menghabiskan waktu bersama, hingga memberikan perhatian lebih, sehingga korban kembali memiliki harapan bahwa hubungan tersebut dapat berubah menjadi lebih baik.

Padahal, tanpa disadari korban telah terjebak dalam lingkaran kekerasan yang terus berulang.

Selain pola hubungan tersebut, Stephani juga menilai kondisi psikologis korban dapat menjadi faktor yang membuat seseorang lebih rentan bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Korban yang memiliki sifat dependen atau sangat bergantung secara emosional kepada pasangan, ditambah rasa tidak percaya diri (insecure), cenderung lebih sulit mengakhiri hubungan. Di sisi lain, pelaku biasanya memiliki karakter yang dominan, agresif, dan sangat mengontrol kehidupan pasangannya.

"Ketika seseorang sangat bergantung kepada pasangannya lalu bertemu dengan pasangan yang dominan, agresif, dan controlling, maka risikonya lebih besar untuk masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat seperti ini," ungkapnya.

Meski demikian, Stephani menegaskan bahwa penjelasannya merupakan analisis berdasarkan konsep psikologi dan berbagai hasil penelitian mengenai abusive relationship, bukan kesimpulan terhadap fakta hukum dalam kasus Taufik Hidayat dan YTR.

Ia menekankan bahwa rekonstruksi lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi hanya dapat diperoleh melalui proses penyidikan kepolisian, termasuk pemeriksaan terhadap korban maupun pelaku.

"Saya hanya menyampaikan analisis berdasarkan konsep psikologi dan riset yang ada. Untuk dinamika sebenarnya dalam kasus ini tentu harus diperoleh dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang terlibat," pungkasnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut