Kasir Salah Pencet, Pria Ini Harus Relakan Rp950 Juta Melayang untuk Sebotol Bir
SYDNEY, iNews.id - Jurnalis asal Australia, Peter Lalor, kaget bukan kepalang usai meminum bir di salah satu bar di Manchester, Inggris, pada Minggu (1/9/2019). Dia disodori tagihan sangat fantastis, yakni sebesar 55.000 poundsterling atau sekitar Rp945 juta untuk sebotol bir yang diminumnya.
Jurnalis spesialis olahraga kriket sebuah surat kabar Australia itu, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (6/9/2019), mengatakan, mulanya dia hanya iseng mampir ke bar sambil menunggu latihan klub kriket Ashes di Old Trafford.
Dalam posting-an di Twitter, Lalor mengungkapkan saat itu dia tak menggunakan kacamata sehingga tak mengecek jumlah tagihan untuk sebotol Deuchars IPA. Dia hanya menyerahkan kartu kredtit ke kasir bar.
(Bir yang diminum Peter Lalor/Twitter)
Sampai keluar bar, Lalor belum sadar bahwa tagihan yang dikenakan untuknya mencapai 55.000 poundsterling. Dia baru tahu setelah sang istri menelepon dari Australia, mengabarkan bahwa uang sebesar 99.983 dolar Australia melayang dari rekening mereka.
Hal yang lebih menyakitkan lagi, ada biaya transaksi yang harus Lalor bayar untuk tagihan bar itu yakni 2.500 dolar Australia.
Setelah mengecek ke bar, Lalor baru mengetahui penyebabnya. Ternyata petugas kasir salah menekan tombol, yakni yang seharusnya 5,5 poundsterling ditulis menjadi 55.000 untuk sebotol bir.
Lalor mengaku terkejut karena bank tak langsung memberitahukannya, apalagi ada pengambilan uang dalam jumlah sangat besar.
Pihak bar sudah mengembalikan uang ke melalui rekening Lalor. Namun dia tetap harus membayar tagihan ke bank yang jumlahnya tentu lebih besar.
Mengomentari kualitas bir seharga nyaris Rp1 miliar, Lalor menilai rasanya cukup memuaskan. Deuchars IPA diketahui memenangkan sejumlah penghargaan. Namun rasa itu telah hilang bersama peristiwa yang dialaminya.
Sementara itu operator bar, Malmasion Hotel, enggan memberikan komentar terkait kasus ini. Namun juru bicaranya mengatakan kepada Guardian bahwa kasus ini masih diselidiki.
Editor: Anton Suhartono