Jenis-jenis Paragraf Lengkap Pengertian dan Contohnya
JAKARTA, iNews.id - Apakah kamu sudah mengenal jenis-jenis paragraf? Dalam sebuah penulisan dan bacaan pasti di dalamnya terdapat sebuah paragraf. Agar semakin paham, ini jenis dan contohnya.
Dikutip dari buku ‘Bahasa Indonesia kelas 7 Kemendikbud’ jenis-jenis paragraf dapat dibedakan menjadi 4. Jenis-jenis paragraf tersebut diantaranya paragraf deduktif, induktif, campuran (deduktif-induktif), dan paragraf penuh kalimat topik.
Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan umumnya terletak di awal paragraf. Gagasan umum atau gagasan utamanya dinyatakan dalam kalimat pertama. Dikutip dari buku ‘Pengembangan Menulis Paragraf’ karya Dr. Murinah, M.Pd, bila kalimat topik ditempatkan pada awal paragraf akan terbentuk paragraf deduktif, yaitu paragraf yang menyajikan pokok permasalahan terlebih dahulu, lalu menyusul uraian atau rincian permasalahan paragraf.
Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir paragraf atau pada kalimat awal paragraf. Bila kalimat pokok ditempatkan pada akhir paragraf akan terbentuk paragraf induktif, yaitu paragraf yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok permasalahan paragraf.
Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif, Ciri-ciri dan Cara Membuatnya
Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan umumnya terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama utama. Kalimat terakhir paragraf ini merupakan penegasan dari pernyataan yang dikemukakan dalam kalimat pertama. Bila kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf, maka paragraf tersebut disebut paragraf campuran (deduktif-induktif). Kalimat pada akhir paragraf pada umumnya menegaskan kembali gagasan utama pada awal paragraf.
Paragraf penuh kalimat topik adalah paragraf yang mempunyai kalimat-kalimat yang sama pentingnya sehingga tidak satupun kalimatnya yang bukan kalimat topik. Kondisi ini mengakibatkan terbentuknya paragraf yang penuh kalimat topik. Paragraf semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian bersifat deskriptif dan naratif, terutama dalam karangan fiksi.
Kalimat Imperatif: Pengertian, Ciri-ciri, Perbedaan, dan Contohnya Lengkap
Kita sudah mengenal jenis-jenis paragraf, agar lebih paham mari kita lihat beberapa contoh:
Contoh 1:
Kebudayaan dibagi atas dua macam yaitu kebudayaan fisik dan kebudayaan non fisik. Kebudayaan fisik tanpa jelas dengan merujuk pada benda-benda. Kebudayaan non fisik ada yang berupa pemikiran dan berupa tingkah laku. Contoh lain kebudayaan fisik adalah patung, lukisan, rumah, mobil, dan jembatan. Contoh kebudayaan yang berupa pemikiran adalah filsafat, pengetahuan, ideologi, etika dan estetika. Hasil kebudayaan yang berupa tingkah laku adalah adat istiadat, tidur, bertani, bahkan berkelahi (Dalman, 2019:87).
Penjelasan:
Paragraf di atas merupakan jenis paragraf deduktif. Pola pengembangan paragraf deduktif merupakan pola pengembangan paragraf yang ide pokoknya berada di awal paragraf. Ide pokok paragraf tersebut yaitu “Kebudayaan dibagi atas dua macam yaitu kebudayaan fisik dan kebudayaan non fisik.”.
Contoh 2:
Industrialisasi di negara kita mendorong didirikannya berbagai macam pabrik yang memproduksi beraneka barang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pabrik-pabrik itu memberikan lapangan kerja kepada ribuan tenaga kerja baik yang berasal dari masyarakat di sekitar pabrik maupun di daerah lain. Dengan demikian, adanya berbagai pabrik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, aneka barang yang diproduksi oleh pabrik-pabrik tersebut telah meningkatkan ekspor nonmigas serta menghasilkan devisa bagi negara.
Penjelasan:
Paragraf di atas memperlihatkan bahwa kalimat pertama merupakan kalimat yang mengandung gagasan umum. Kalimat tersebut merupakan dasar atau induk dari perumusan gagasan-gagasan yang ada di bawahnya. Dinyatakan dalam paragraf tersebut bahwa pembangunan pabrik disediakan industrialisasi. Industrialisasi dapat memberikan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan ekspor non migas serta menghasilkan devisa negara.
Contoh 1:
Yang dimaksud dengan kebudayaan fiksi tampak jelas karena merujuk pada benda-benda. Kebudayaan non fiksi ada yang berupa pemikiran dan berupa tingkah laku. Contoh kebudayaan yang berupa pemikiran adalah filsafat, pengetahuan dan ideologi, etika, dan estetika. Hasil kebudayaan yang berupa tingkah laku adalah adat istiadat, tidur, bertani dan bahkan berkelahi. Jadi, kebudayaan dapat dibagi atas dua macam, yaitu kebudayaan fisik dan kebudayaan non fisik. (Dalman, 2013:98).
Penjelasan:
Paragraf diatas menggunakan pola pengembangan paragraf induktif. Pola pengembangan paragraf induktif merupakan pola pengembangan paragraf yang ide pokoknya berada di akhir paragraf.
Contoh 2:
Gerakan pecinta alam dengan dasar “sadar lingkungan sehat” telah mulai menggejala di kalangan remaja. Tidak sedikit perkumpulan pecinta lingkungan yang anggotanya terdiri atas pelajar, baik itu pelajar SMP, SMA, maupun para remaja dari lingkungan pesantren. Keberanian untuk melakukan penelitian ilmiah semakin meluas, khususnya di tingkat SMA. Fenomena semacam itu merupakan bukti bahwa remaja pada tahun-tahun ini tidak selalu bernilai negatif.
Penjelasan:
Paragraf di atas dengan jelas mengungkapkan gagasan bahwa remaja tidak selalu bernilai negatif. Gagasan tersebut terdapat dalam kalimat terakhir. Kalimat-kalimat sebelumnya merupakan bukti yang menunjukkan fenomena positif kiprah remaja.
Contoh 1:
Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia memerlukan rumah-murah sehat dan kuat. Departemen sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah tetapi kuat. Agaknya bahan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagipula bahan perlit dapat dicetak menurut keinginan seseorang. Usaha ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat, kuat untuk memenuhi keperluan rakyat. (Dalman, 2013:98).
Penjelasan:
Paragraf di atas menggunakan pola pengembangan paragraf deduktif-induktif atau paragraf campuran.
Contoh 2:
Saya berkeyakinan kalau Indonesia memfokuskan diri pada sektor agribisnis, tidak ada negara lain yang mampu melindungi kita. Memang, masalah himpitan ekonomi yang sedang berlangsung, telah mengoreksi nilai tukar kita. Dalam hal ini, pemerintah harus menyesuaikan diri terhadap nilai tukar yang ada dengan mendorong industri-industri yang mampu bertahan pada nilai tukar yang ada, yakni sektor agribisnis. Bagi sektor agribisnis, semakin melemah rupiah-asal stabil-, akan semakin baik. Apabila sektor ini menjadi salah satu negara yang ekonominya tertangguh di dunia.
Penjelasan:
Gagasan utama paragraf tersebut adalah agribisnis merupakan sektor terpenting bagi bangkitnya perekonomian Indonesia. Gagasan tersebut dinyatakan dalam kalimat pertama. Setelah diselingi dengan kalimat-kalimat penjelas, gagasan tersebut ditegaskan kembali dalam kalimat terakhir dengan rumusan yang berbeda.
Contoh:
Pagi hari itu aku duduk di bangku panjang dalam taman di belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalan. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Di depanku bermekaran bunga beraneka warna. Kuhirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku.
Penjelasan:
Paragraf di atas, merupakan paragraf yang terbentuk dengan semua kalimat topik. Terdapat empat kalimat dalam paragraf tersebut yang dapat berdiri sendiri membentuk sebuah paragraf baru.
Nah, jadi sudah tahu kan apa saja jenis-jenis paragraf dan contohnya? Semoga kamu dapat mudah membedakannya ya!
Editor: Puti Aini Yasmin