Inspiratif! Peneliti Ini Raih Gelar Doktor ITB di Usia 62 Tahun
JAKARTA, iNews.id - Endiah Puji Hastuti membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia. Di usia 62 tahun, peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Rekayasa Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB).
Prestasi ini berhasil ia peroleh setelah melalui perjuangan akademik yang tak ringan mulai dari tes potensi akademik hingga TOEFL.
Perempuan yang akrab disapa Endiah tersebut sebelumnya menempuh pendidikan S1 Teknik Kimia, Universitas Diponegoro dan S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB.
Diketahui, ia pernah terlibat langsung dalam proses commissioning Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy pada akhir 1980-an, yaitu tahap pengujian dan pembuktian bahwa reaktor dapat beroperasi sesuai rancangan desainnya dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Kesempatan melanjutkan studi doktoral hadir setelah BATAN bergabung dengan BRIN. Meski telah memasuki usia 62 tahun, Endiah memutuskan mengambil peluang tersebut dan kembali menjadi mahasiswa ITB. Ia juga menegaskan bahwa keinginannya melanjutkan studi doktoral berangkat dari cita-cita yang belum sempat dituntaskan sejak lama.
“Kesempatan itu seperti awan. Kalau lewat di depan kita, ya harus diraih,” ucapnya dikutip dari laman resmi ITB, Minggu (24/5/2026).
Dalam proses seleksi doktoral, Endiah harus melalui seluruh persyaratan akademik seperti mahasiswa lainnya, mulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) hingga tes kemampuan bahasa Inggris. Menurutnya, tidak ada kemudahan khusus meskipun dirinya sudah tidak lagi muda.
“Usia 62 tahun tetap diminta lulus TPA dan TOEFL. Itu menjadi pembuktian bagi diri saya sendiri, apakah saya masih mampu secara kognitif untuk belajar,” ungkapnya.
Ia mengaku tantangan terbesar selama menjalani studi bukan berasal dari perbedaan usia dengan mahasiswa lain, melainkan bagaimana menjaga ritme belajar dan mengelola stres. Karena itu, ia menerapkan disiplin dalam membagi waktu dan menghindari kebiasaan belajar mendadak.
“Kalau waktu muda mungkin masih bisa sistem kebut semalam. Tapi kalau usia saya sekarang, itu bisa membuat stres dan sakit. Semuanya harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujarnya.
Di tengah kesibukannya sebagai peneliti dan mahasiswa doktoral, Endiah tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Ia mengaku senang berjalan-jalan bersama teman-temannya, aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah, serta rutin melakukan olahraga ringan.
“Hidup itu harus seimbang. Jangan sampai sekolah terus, tapi kita malah tidak menikmati hidup,” katanya.
Dalam menjalani kehidupan akademik, Endiah juga banyak belajar dari budaya diskusi di ITB. Ia sering mengikuti seminar atau sidang mahasiswa lain untuk memperluas wawasan dan memahami cara dosen membedah suatu persoalan ilmiah secara mendalam.
“Hal yang terlihat sederhana bisa menjadi sangat ilmiah karena masukan dari dosen-dosen yang sangat mendalam,” kata Endiah.
Editor: Puti Aini Yasmin