iNews Campus Connect di Unsoed, Mahasiswa Diingatkan Risiko Pinjol hingga Literasi Digital
PURWOKERTO, iNews.id - iNews Media Group Campus Connect (ICC) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menghadirkan program MoneyFestasi x Fintech Academy by OVO, Rabu (6/5/2026). Adapun, di era digital yang dilengkapi dengan berbagai kemudahan seperti saat ini, kemudahan teknologi finansial harus diimbangi dengan literasi.
Selain itu, kalangan mahasiswa yang saat ini sudah familiar dengan berbagai transaksi digital untuk pembayaran hingga investasi.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi menekankan, kehadiran fintech memang tak terelakkan di era digital. Kemudahan akses keuangan mulai dari pembayaran hingga pinjaman justru menjadi tantangan di era saat ini.
Dia juga mengingatkan potensi risiko yang tak bisa dianggap remeh. Salah satunya adalah perilaku konsumtif akibat transaksi digital yang terasa 'tidak terasa'.
Dia menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pasalnya, jika tidak, kemudahan seperti pembayaran QRIS atau e-wallet justru bisa memicu pemborosan.
iNews Campus Connect Perkuat Kolaborasi Kampus dan Industri Media
“Kalau berbasis kebutuhan, itu sehat. Tapi kalau berbasis keinginan, itu yang jadi pemicu konsumtifisme,” ucap Tulus.
Selain perilaku konsumtif yang tak terduga karena kemudahan transaksi digital, Tulus juga menyoroti soal maraknya kasus pinjaman online ilegal yang menjerat generasi muda. Di mana berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kelompok usia 19–30 tahun menjadi yang paling rentan terjebak pinjol ilegal.
iNews Campus Connect Hadir di Unsoed, Buka Jalan Mahasiswa Masuk Industri Media
“Banyak kasus dari pinjaman kecil, misalnya Rp500 ribu, bisa membengkak jadi puluhan juta bahkan ratusan juta karena bunga dan denda yang tidak terkontrol,” ujarnya.
Tulus mengingatkan kepada generasi muda khususnya mahasiswa, bahwa pinjaman ilegal juga berisiko pada penyalahgunaan data pribadi. Karena dalam praktiknya, pinjol ilegal bisa memanfaatkan data seperti foto, video, hingga kontak di ponsel jika peminjam gagal membayar.
“Jaminannya itu bukan barang, tapi data pribadi kita. Ini yang sering tidak disadari,” katanya.
Karena itu, Tulus menilai edukasi fintech sangat penting karena banyak pengguna yang langsung menyetujui syarat dan ketentuan tanpa membaca atau bahkan memahami isinya.
Padahal, menurutnya memahami detail layanan keuangan digital adalah langkah penting untuk menghindari risiko di kemudian hari.
“Kesadaran itu tidak turun dari langit. Harus dipelajari,” tuturnya.
Untuk itu, Tulus mendorong mahasiswa agar mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak sejak dini. Termasuk menyusun skala prioritas pengeluaran, mulai dari kebutuhan utama seperti makan, tempat tinggal, hingga transportasi.
Dia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak mengambil keputusan finansial secara sepihak. Apalagi mahasiswa masih bergantung pada orang tua dalam hal finansial.
“Kalau terdesak dan ingin menggunakan layanan keuangan, komunikasikan dulu dengan orang tua. Jangan sampai keputusan itu justru jadi beban baru,” ujarnya.
Editor: Aditya Pratama