Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dubes Iran: Perpecahan Sunni-Syiah Dikondisikan Zionis, Supaya Muslim Tercerai-berai
Advertisement . Scroll to see content

Ichsanuddin Noorsy Blak-blakan Ekonomi RI Mulai Bergejolak, Ungkap Tanda-Tandanya

Selasa, 31 Maret 2026 - 21:45:00 WIB
Ichsanuddin Noorsy Blak-blakan Ekonomi RI Mulai Bergejolak, Ungkap Tanda-Tandanya
Pakar ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy (foto: iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pakar ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy menyoroti adanya tekanan terhadap kondisi ekonomi nasional, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dia menilai, sejumlah tanda menunjukkan adanya gejolak yang mulai dirasakan akibat dampak perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Menurutnya, Bank Indonesia yang dikenal konservatif pun telah mengakui adanya tekanan di pasar keuangan. Hal itu, kata dia, tercermin dari penurunan cadangan devisa dalam dua bulan terakhir.

"Saya ingin mengatakan sama anda, BI aja ngakuin gejolak, BI yang konservatif kayak gitu aja ngakuin gejolak. Apa indikatornya? Sederhana indikatornya. Cadangan devisanya ambruk," ujar Ichsanuddin dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Iran dan Ancaman Krisis, Benarkah?' di iNews, Selasa (31/3/2026).

Penurunan tersebut, lanjut dia, terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS.

"Apa artinya? Berantakan. Ada tekanan pada fiskal. Tekanan pada fiskal dan moneter diindikatorin lain lagi," tambah dia.

Ichsan menilai, tekanan tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah, tetapi juga merembet ke kondisi fiskal dan perilaku sektor perbankan. Dia menyebut perbankan saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati atau wait and see.

Dalam kondisi tersebut, bank dinilai lebih memilih menempatkan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) ketimbang menyalurkan kredit ke sektor riil.

Kondisi ini, menurut Ichsan, berpotensi menekan penyaluran kredit dan berdampak pada perlambatan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, pemerintah yang bergantung pada penerbitan SBN untuk pembiayaan juga menghadapi tekanan tersendiri.

"Gitu lho ngeliatnya, baru bicara komoditas. Karena ujung-ujungnya soal pasar uang dan komoditas," katanya.

Editor: Reza Fajri

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut