Heboh Warga Minum Teh Dicampur Es dari Langit di Surabaya, Pakar ITS Ingatkan Bahaya Kandungan Polutan
JAKARTA, iNews.id - Hujan es sempat terjadi di Surabaya, Jawa Timur pada Senin (21/2) kemarin. Melihat hal itu, pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan bahaya kandungan polutan di dalam esnya.
Kepala Departemen Teknik Lingkungan ITS Arie Dipareza Syafei menjelaskan pada dasarnya hujan es tersebut memiliki kandungan yang sama dengan hujan biasa. Namun, ada polutan dari atmosfer yang ikut terbawa di dalamnya.
Tak hanya sekadar partikel debu kecil, tetapi polutan yang dimaksud bisa mengandung gas emisi, seperti nitrogen dioksida, sulfur dioksida hingga karbon monoksida.
Ia pun tak mengelak bahwa semua butiran hujan membawa polutan karena zat-zat emisi dari bumi. Semua zat tersebut bertumbukan dan menempel dengan droplet air yang ada di atmosfer.
Waspada, Fenomena Hujan Es Berpotensi Terjadi hingga April
"Dalam kasus hujan es, campuran air tersebut mengalami kristalisasi akibat pergerakan udara yang mempengaruhi suhu,” kata Arie melansir laman resmi ITS, Kamis (24/2/2022).
Apalagi, kata Arie, pada kejadian hujan es kemarin disertai angin kencang. Hal itu menyebabkan sebaran polutan yang semakin meluas karena turbulensi angin mempercepat proses pengenceran polutan.
Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga April, BMKG: Dapat Memicu Fenomena Hujan Es
"Maksudnya, gugus-gugus emisi yang ada dalam hujan es akan terdispersi secara lebih cepat dan luas," ucap pria yang mendapatkan gelar doktor dari Universitas Hiroshima, Jepang ini.
Ia pun berharap agar masyarakat lebih hati-hati terhadap hujan es yang terjadi di wilayahnya. Sebab, es yang turun mengandung senyawa polutan yang tidak ramah bagi lingkungan serta kesehatan.
"Jangan mentang-mentang hujan es, dipakai untuk minum es teh," ujarnya.
Editor: Puti Aini Yasmin