Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tanggapi Rupiah Anjlok Rp18.000, Menkeu Purbaya: Fundamental Ekonomi dan Fiskal Baik
Advertisement . Scroll to see content

Gubernur BI Ungkap 4 Paket Operasi Moneter untuk Jaga Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 09 Juni 2026 - 14:29:00 WIB
Gubernur BI Ungkap 4 Paket Operasi Moneter untuk Jaga Nilai Tukar Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo merilis empat paket kebijakan operasi moneter sebagai insentif bagi masuknya aliran modal asing. (Foto: Tim Grafis iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menjelaskan terkait alasan bank sentral mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Selasa (9/6/2026).

Perry menjelaskan, pengetatan moneter tersebut merupakan respons taktis lanjutan demi meredam dampak rambatan konflik militer di Timur Tengah. Langkah ini sekaligus menjadi tameng awal (pre-emptive) untuk menjaga laju inflasi pada tahun 2026 dan 2027 di dalam koridor target pemerintah sebesar 2,5±1 persen.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah," ucap Perry dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Perry menambahkan, berdasarkan hasil evaluasi berkala pasca-RDG medio Mei lalu, pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan tren koreksi yang berjalan lebih dalam dari proyeksi awal. 

Kondisi tersebut didorong oleh tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri serta diperparah oleh fenomena larinya modal asing (capital outflow) dari instrumen portofolio domestik.

Oleh karena itu, BI menilai peningkatan imbal hasil (yield) dan insentif operasi moneter mendesak dilakukan guna mengembalikan daya pikat investasi di Indonesia agar ketahanan ekonomi eksternal tetap terjaga

"Di samping disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," tuturnya.

Guna menyokong keandalan kenaikan BI-Rate ke level 5,50 persen, Bank Indonesia secara simultan merilis empat paket kebijakan operasi moneter sebagai insentif bagi masuknya aliran modal asing:

1. Kenaikan Struktur Suku Bunga SRBI: Menaikkan tingkat suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara menyeluruh untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan demi mendongkrak imbal hasil bagi investor portofolio internasional.

2. Insentif Diskon Hedging Swap: Memberikan fasilitas penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing untuk meningkatkan daya tarik masuknya modal di pasar domestik.

3. Pembukaan Jendela Lelang Repo Perbankan: Membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi industri perbankan guna mengamankan kecukupan likuiditas pasar uang.

4. Intervensi Operasi Moneter Berlapis: Meningkatkan intensitas operasi moneter, baik pada instrumen Rupiah maupun pasar valuta asing (valas) secara berkesinambungan.

Dengan demikian, Perry menegaskan bahwa seluruh bauran kebijakan moneter ini terus diselaraskan dengan kebijakan fiskal pemerintah. Sinergi makro ini mengacu pada kesepakatan bersama yang diteken oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI pada 6 Juni 2026 yang lalu.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut