Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Impor RI Melonjak 22,49% pada April 2026, Tembus 25,21 Miliar Dolar AS
Advertisement . Scroll to see content

Emas Perhiasan Deflasi 3 Bulan Berturut-turut, BPS: Meredam Inflasi

Selasa, 02 Juni 2026 - 14:24:00 WIB
Emas Perhiasan Deflasi 3 Bulan Berturut-turut, BPS: Meredam Inflasi
BPS mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi 3 bulan berturut-turut sejak Maret 2026. (Foto: Ilustrasi/AP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Laju tekanan harga atau inflasi di Indonesia diredam oleh merosotnya harga komoditas emasperhiasan sepanjang periode Mei 2026. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas emas perhiasan yang bernaung di bawah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang andil deflasi sebesar 0,05 persen, dengan total nilai deflasi mencapai 0,74 persen.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengonfirmasi peran kelompok pengeluaran tersebut sebagai penyeimbang laju indeks harga konsumen pada bulan ini.

"Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada Mei ini mengalami deflasi atau meredam inflasi," ucap Pudji dalam konferensi pers Rilis BPS, Selasa (2/6/2026).

Pudji menambahkan, emas perhiasan bertindak sebagai motor utama yang menarik kelompok pengeluaran ini ke zona deflasi dengan mencatatkan koreksi harga sebesar minus 2,67 persen pada Mei 2026.

Tren penurunan harga ini sekaligus melanjutkan fase deflasi yang sudah terjadi pada bulan Maret sebesar 1,17 persen serta April sebesar 3,76 persen.

"Emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 2,67 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Komoditas ini telah mengalami deflasi 3 bulan berturut-turut sejak Maret 2026," tuturnya.

Di saat sektor perawatan pribadi mengalami penurunan harga, sejumlah kelompok pengeluaran lain justru terpantau masih mencatatkan inflasi pada Mei 2026.

Kenaikan harga tertinggi dibukukan oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,39 persen dengan sumbangan andil sebesar 0,12 persen.

Mengekor di posisi kedua sebagai pendorong inflasi terbesar adalah kelompok pengeluaran transportasi yang laju inflasinya mencapai 0,61 persen serta memberikan andil sebesar 0,07 persen.

Selanjutnya, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga ikut merangkak naik dengan tingkat inflasi sebesar 0,4 persen dan menyumbang andil 0,03 persen terhadap IHK.

Secara akumulatif, seluruh pergerakan harga pada kelompok pengeluaran masyarakat tersebut membentuk angka inflasi umum sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month) pada Mei 2026.

Dengan capaian tersebut, tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei 2026) kini berada di level 1,35 persen, sementara rapor inflasi tahun ke tahun (year-on-year) bertengger di angka 3,08 persen.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut