Eks Bos WHO Beberkan Fakta Mengkhawatirkan Wabah Ebola 2026, Dunia Harus Waspada!
JAKARTA, iNews.id – Wabah Ebola 2026 memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkap lima perkembangan terbaru yang menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan global.
Pernyataan itu disampaikan Prof Tjandra mengacu pada pembukaan World Health Assembly (WHA) ke-79 pada 19 Mei 2026, beberapa hari setelah WHO menetapkan Ebola sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada 16 Mei 2026.
Menurut Prof Tjandra, jumlah kasus Ebola diperkirakan masih akan terus bertambah. Selain kasus yang sudah terkonfirmasi resmi, kini terdapat lebih dari 500 kasus suspek dan sekitar 130 kematian suspek Ebola.
"Dirjen WHO menyampaikan bahwa angka ini kemungkinan akan meningkat di hari-hari mendatang," ujar Prof Tjandra pada iNews.id, Rabu (20/5/2026).
Situasi semakin menjadi perhatian karena Ebola kini tak lagi hanya ditemukan di wilayah terpencil. Kasus sudah dilaporkan muncul di daerah perkotaan, yakni Kampala dan Kota Goma, yang memiliki mobilitas penduduk cukup tinggi.
"Kalau sudah masuk area urban, tentu risiko penyebarannya menjadi lebih besar," katanya.
WHO juga melaporkan adanya kematian pada tenaga kesehatan. Hal ini dinilai menjadi tanda bahwa penularan kemungkinan sudah terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan.
Tak hanya soal penularan, kondisi sosial di wilayah terdampak juga memperumit situasi. Prof Tjandra menjelaskan, beberapa daerah terjangkit mengalami konflik dan gangguan keamanan. Lebih dari 100 ribu warga bahkan dilaporkan mengungsi.
Di sisi lain, terdapat kawasan pertambangan dengan aktivitas dan perpindahan manusia yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat penyebaran virus antardaerah.
Yang paling menjadi tantangan, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.
"Dengan lima perkembangan ini, maka tentu kita harus lebih meningkatkan pengawasan dan mempersiapkan kegiatan antisipasi yang diperlukan," ujar Prof Tjandra.
Dia menegaskan, dunia perlu meningkatkan kewaspadaan, mulai dari pengawasan kesehatan, kesiapan rumah sakit, hingga deteksi dini di pintu masuk negara untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Editor: Muhammad Sukardi