Direstui Danantara, KAI Targetkan Akuisisi INKA Rampung Akhir 2026
JAKARTA, iNews.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memproyeksikan proses akuisisi terhadap PT Industri Kereta Api (INKA) dapat dituntaskan pada November 2026. Langkah akuisisi diambil sebagai upaya memperkokoh struktur industri perkeretaapian di dalam negeri sekaligus mengoptimalkan efisiensi rantai pasok secara menyeluruh.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, memaparkan target penandatanganan akuisisi diharapkan selesai pada akhir 2026, sehingga agenda strategis lanjutan dapat segera diimplementasikan pada tahun berikutnya.
"Roadmap kami di tahun 2026 ini, kita harapkan di bulan November penandatanganan akuisisi INKA itu sudah terjadi. Sehingga 2027, roadmap yang kita sudah buat bersama-sama bisa mulai dikerjakan, termasuk engagement dengan technology partner atau principal, plus juga persiapan untuk bisnis MRO," ujar Gede dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (5/6/2026).
Rencana konsolidasi ini juga memperoleh dukungan penuh dari Danantara. Pada pertengahan Mei lalu, lembaga tersebut telah memberikan mandat resmi kepada manajemen KAI dan INKA untuk segera melaksanakan proses uji tuntas (due diligence) serta kajian komprehensif mengenai skema integrasi kedua entitas tersebut.
Fokus utama dari kajian ini adalah untuk memastikan stabilitas pasokan sarana kereta api sekaligus membangun sinergi bisnis yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Sejalan dengan rencana tersebut, KAI telah merinci kebutuhan sarana perkeretaapian untuk periode lima tahun ke depan.
Kebutuhan tersebut meliputi pengadaan sekitar 2.000 gerbong bottom dump, 1.200 gerbong datar, 652 unit kereta penumpang, hingga 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk operasional di wilayah Jabodetabek.
Penyatuan ini dinilai krusial untuk mengatasi berbagai kendala pengadaan yang selama ini muncul, khususnya terkait aspek kualitas produk dan kepastian waktu pengiriman.
"Dengan adanya integrasi KAI dan INKA, kita harapkan KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya per tahun atau jangka pendek, sehingga semua persiapan R&D maupun manufaktur INKA itu bisa direncanakan dari awal sampai akhir," kata Gede.
Gede menambahkan, adanya kepastian kontrak jangka panjang bakal menjadi stimulus bagi INKA untuk memperkuat investasi di sektor manufaktur dan membenahi sistem rantai pasok mereka. KAI mengestimasi integrasi ini akan mendongkrak kesehatan finansial INKA secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan adanya potensi pemesanan produk senilai Rp18,9 triliun untuk periode lima tahun.
"Sedangkan bisnis MRO atau recurring income itu sekitar Rp3 triliun per tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan itu sekitar Rp15 triliun," kataGede.
Melalui proyeksi tersebut, total potensi pendapatan yang bisa diraup INKA selama lima tahun diperkirakan mencapai Rp33,9 triliun. Angka ini merupakan akumulasi dari proyek pengadaan sarana kereta serta lini bisnis perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO).
KAI juga menetapkan sasaran agar pada tahun 2029, INKA telah bertransformasi menjadi perusahaan manufaktur kereta yang memiliki struktur keuangan lebih sehat dengan basis bisnis MRO yang kuat. Gede menegaskan dalam pengembangannya, KAI mengacu pada model industri perkeretaapian di beberapa negara maju, termasuk China.
Editor: Reza Fajri