BNPB Sediakan Layanan Psikososial Warga Pascabencana Sumatra, Kerahkan Psikiater
JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyediakan layanan psikososial untuk memulihkan trauma warga pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Layanan itu disediakan di samping pelayanan kesehatan fisik.
“Berkaitan dengan pemulihan atau layanan psikososial, di setiap kabupaten/kota secara berkala, satu hingga dua kali seminggu, terus kita lakukan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (28/12/2025).
Aam, sapaan akrab Abdul Muhari, menjelaskan layanan tersebut tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada para ibu dari warga terdampak.
“Kita mendatangkan tenaga ahli, dokter, psikiater, serta para relawan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan psikososial,” ujarnya.
Jaringan Telekomunikasi di Daerah Terdampak Banjir Sumatra Pulih 95 Persen
Menurut Aam, layanan psikososial akan terus dilakukan secara berkelanjutan guna membantu masyarakat pulih dari trauma akibat bencana.
“Ini tetap kita programkan. Harapannya, secara bertahap dapat memulihkan trauma yang dialami saudara-saudara kita pascabencana,” jelasnya.
Korban Bencana Sumatra Dapat Kelonggaran Lunasi Biaya Haji 2026, Ini Jadwalnya
Terbanyak Aceh, Jumlah Korban Tewas Bencana Sumatra Bertambah jadi 1.140 Orang
Dia menambahkan, BNPB juga terus mempercepat perbaikan fasilitas umum, termasuk sekolah dan madrasah yang rusak maupun tertutup lumpur akibat banjir akhir November lalu. Dia berharap kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung pada awal semester genap, pekan pertama Januari 2026.
“Beberapa fasilitas pendidikan yang sebelumnya terdampak lumpur kini sudah dapat difungsikan kembali,” ujarnya.
Danantara bakal Bangun 15.000 Rumah untuk Korban Bencana Sumatra, Ditargetkan Rampung 3 Bulan
Meski demikian, untuk sekolah yang mengalami kerusakan cukup parah, BNPB telah menyiapkan sejumlah tenda darurat.
“Sehingga, untuk sekolah-sekolah yang masih memerlukan perbaikan, proses belajar mengajar dapat dilakukan di tenda sementara,” tutup Aam.
Editor: Rizky Agustian