Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BNPB Wanti-Wanti Potensi Karhutla Besar pada 2027
Advertisement . Scroll to see content

BNPB: 3 Bencana Alam di 2018 Fenomena Langka

Selasa, 25 Desember 2018 - 20:18:00 WIB
BNPB: 3 Bencana Alam di 2018 Fenomena Langka
Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban tsunami yang ditemukan di hutan bakau di kawasan wistata Tanjung Lesung, Banten, Selasa (25/12/2018). (Foto: Antara/Muhammad Iqbal).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tiga bencana alam yang terjadi pada 2018 di Indonesia sebagai fenomena langka. Bencana ini merenggut ribuan korban jiwa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tiga bencana tersebut yakni gempa bumi beruntun di Nusa Tenggara Barat, gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi terbesar di dunia di Sulawesi Tengah.

"Serta tsunami Selat Sunda yang dipicu longsor bawah laut," kata Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2018).

Dia menjelaskan, dari tiga peristiwa tersebut, gempa yang disusul tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah merupakan bencana dengan korban jiwa terbanyak.

Data BNPB, gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) itu menyebabkan 2.101 orang meninggal dunia, 1.373 orang hilang dengan kerugian ekonomi hingga Rp18,47 triliun.

"Gempa memicu tsunami yang tiba sangat cepat hanya dalam waktu empat menit lalu terjadi likuifaksi yang merupakan peristiwa terbesar di dunia," ujar Sutopo.

Setelah itu gempa bumi beruntun di Lombok dan Sumbawa. Bencana tersebut menyebabkan 546 orang meninggal, 1.886 orang luka-luka dan kerugian ekonomi sekitar Rp17,13 triliun.

"Ketiga bencana ini aneh dan langka terjadi, sementara tsunami yang terjadi di Selat Sunda juga fenomena yang langka karena dipicu oleh longsoran bawah laut dan erupsi dari gunung Anak Krakatau," kata pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini.

Sutopo sebelumnya mengatakan tsunami Selat Sunda fenomena langka karena tidak dipicu gempa. Tsunami itu akibat longsoran seluas 64 hektare Gunung Anak Krakatau.

"Fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” ujarnya dalam akun Twitter, Minggu (23/12/2018).

Seperti diketahui, saat tsunami menerjang pantai barat Banten dan Lampung Selatan, BMKG dan BNPB semula mendeteksi kejadian ini sebagai gelombang pasang. Apalagi saat itu terjadi bulan purnama. Belakangan lembaga ini memperbarui data dan menyatakan gelombang dahsyat itu sebagai tsunami.

BNPB mencatat hingga Selasa (25/12) pukul 13.00 WIB 429 orang meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda. Adapun korban luka mencapai 1.485 orang, 154 hilang dan 16.082 orang mengungsi, sementara kerugian masih dalam pendataan.

Editor: Zen Teguh

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut