BMKG: Indonesia Masuk Masa Pancaroba saat Periode Libur Lebaran 2026
JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa pada periode perayaan dan libur Idulfitri 1447 Hijriah/Lebaran 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa peralihan musim hujan atau pancaroba.
Kondisi ini berpotensi memicu hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah, sehingga perlu menjadi perhatian dalam mendukung kelancaran transportasi dan keselamatan masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026.
"Berdasarkan analisis BMKG, potensi peningkatan intensitas curah hujan utamanya terjadi pada minggu pertama hingga minggu kedua Maret 2026. Selanjutnya intensitas tersebut diperkirakan akan menurun," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya dikutip, Sabtu (14/3/2026).
Dia menambahkan, pada tanggal 1-10 Maret, kondisi cuaca diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang, dengan peluang hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Ketersediaan LPG Selama Periode Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 di Wilayah Semarang Raya
Sementara pada periode 11-20 Maret hingga 21-30 Maret, cuaca diperkirakan masih didominasi hujan ringan hingga sedang dengan peluang hujan lebat di wilayah Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Pegunungan. Secara umum, selama periode Lebaran kondisi cuaca diprediksi didominasi berawan hingga berpotensi hujan.
Lebih lanjut, pada April 2026 curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi sangat tinggi terutama di wilayah Papua Tengah.
Mudik Lebaran 2026, Polda Jateng Hadirkan TAC dan Layanan AI Chat Sipolan
Kondisi tersebut, kata Faisal, dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer, di antaranya aktivitas Monsun Asia yang membawa massa udara basah, fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi pertumbuhan bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Sebagai langkah mitigasi potensi bencana hidrometeorologi, BMKG juga menyiapkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional dan berbasis kebutuhan untuk menekan intensitas curah hujan di wilayah yang berpotensi terdampak. Upaya ini diarahkan untuk memitigasi potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang dapat mengganggu aktivitas transportasi, khususnya penyeberangan.
Mudik Lebaran 2026, Kemenag Siapkan 6.859 Masjid Ramah Pemudik 24 Jam