Banjir Sumatera Belum Ditetapkan Bencana Nasional, Mendagri: Perlakuannya Sudah Nasional
JAKARTA, iNews.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan pemerintah belum menetapkan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional. Meski begitu, dia memastikan penanganan bencana yang dilakukan pemerintah sudah setara nasional.
“Kalau untuk penetapan bencana nasional, sementara belum setahu saya, setahu saya mohon maaf, kalau saya salah mohon dikoreksi. Tetapi perlakuannya sudah nasional, dari hari pertama pemerintah pusat menilai sendiri bahwa harus turun, dan kemudian dari hari pertama sudah dilakukan dengan prosedur nasional, jadi semua sudah all out," kata Tito, Senin (1/12/2025).
Dia menuturkan, penetapan status bencana memang penting. Dia menyebutkan yang lebih penting adalah tindakan.
"Jadi masalah status itu menurut saya penting, tapi yang paling utama itu kan perlakuan. Tindakannya itu yang lebih penting, tindakan nasional," ujar dia.
BMKG soal Banjir-Longsor di Sumatera: Hujan 1 Bulan Turun dalam 1 Hari, Bayangkan Itu
Di sisi lain, dia mengatakan pemerintah sedang mendata rumah-rumah yang roboh akibat banjir dan longsor. Dia mengatakan pemerintah akan membangun hunian sementara (huntara).
"Seingat saya sampai hari ini belum ada huntara yang dibangun. Nah ini sedang dijalankan pendataan, siapa-siapa saja yang rumahnya betul-betul roboh untuk bisa dibuatkan hunian sementara," jelas dia.
Tembus 1,8 Juta Penonton, Film Agak Laen: Menyala Pantiku Bantu Korban Banjir Sumatera
Penyakit ISPA Hantui Anak-Anak di Pengungsian Banjir Sumatera
Diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah korban tewas akibat banjir dan longsor di Sumatera mencapai 604 orang. Sedangkan 464 lainnya hilang.
Jumlah itu berdasarkan data terkini yang dihimpun BNPB per Senin (1/12/2025) pukul 18.45 WIB.
Usai Rapimnas 2025, Kadin akan Tinjau Lokasi Bencana di Sumatera
Sementara itu, BNPB juga mencatat korban luka mencapai 2.600 orang, warga terdampak sebanyak 1,5 juta orang, dan jumlah pengungsi sebanyak 570.000 orang.
Editor: Rizky Agustian