Banggar DPR Minta Pemerintah Pertajam Program Prioritas untuk Perkuat Fiskal
JAKARTA, iNews.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah meminta pemerintah mempertajam program prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Hal ini penting agar dapat memperkuat bantalan fiskal atau cadangan kas negara di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang memanas imbas serangan Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Said menuturkan, pemerintah tidak perlu memaksa seluruh program berjalan bersamaan. Program yang bersifat wajib dan mendesak harus tetap berjalan, tapi program yang dinilai masih bisa ditunda bisa dialihkan menjadi proyek tahun jamak.
"Agar tidak berlarut-larut, alangkah baiknya pemerintah melakukan penajaman program terhadap prioritas. Yang memang mendesak, wajib terus dilakukan. Terhadap program-program prioritas yang tidak begitu mendesak, bisa dilakukan tahun jamak," ujar Said di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2025).
Legislator PDIP ini menyoroti salah satu poin krusial seperti pembangunan infrastruktur, misalnya jalan tol. Pemerintah diminta menahan diri untuk menggarap proyek tersebut untuk mengamankan ketersediaan dana cadangan mitigasi risiko global.
DPR Sepakat RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Jadi Usul Inisiatif Parlemen
"Salah satunya yang tidak begitu mendesak, umpamanya kalau pemerintah untuk tol dan sebagainya, ya mbok ditahan dulu. Toh faktanya tol itu juga tahunnya tahun jamak. Sehingga pemerintah bisa mempertebal kantong cadangan pemerintah untuk jaga-jaga," kata dia.
Said menegaskan, meski program tersebut ditunda, bukan berarti dibatalkan. Tetapi sebagai strategi menegaskan pemerintah memiliki kantong tebal untuk menghadapi situasi yang sulit diprediksi.
Tok! Paripurna DPR Setujui 5 Anggota Dewan Komisioner OJK, Ini Daftarnya
Dia juga menyoroti kebocoran subsidi LPG 3 kg yang membengkak sampai 8,6 juta metrik ton per tahun. Program ini membengkak lantaran sistem distribusi yang masih terbuka sehingga tidak tepat sasaran. Banggar mengusulkan skema distribusi dengan teknik biometrik.
"Penajaman LPG 8,6 juta metrik ton per tahun kan naik terus tuh. Seharusnya pakai fingerprint aja, klik. Atau lebih canggih pakai retina mata. Nah itu saya yakin (konsumsinya) paling sekitar 5,5 juta (metrik ton) maksimal," ucapnya.
Jaksa Penuntut Mati ABK Fandi Minta Maaf di DPR, Akui sudah Disanksi Kejagung
Sementara, terkait program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Said memberi catatan berbeda terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Said menilai, program MBG bersifat wajib karena masuk klaster mandatory spending anggaran pendidikan.
"Kalau MBG dalam klaster mandatori anggaran pendidikan, itu wajib. Sudah nggak bisa ditawar. Bahwa di lapangan perlu perbaikan tata kelola, setuju. Tapi hukumnya wajib karena mandatori," tuturnya.
Namun, program Koperasi Desa Merah Putih dinilai Said tidak memiliki skala prioritas yang mendesak untuk dijalankan secara instan di seluruh wilayah.
"Kopdes kan tidak bisa seketika langsung. Skala prioritasnya menurut saya tidak (mendesak sekali). Pemerintah harus punya kantong tebal untuk jaga-jaga sebagai bagian dari mitigasi karena memang unpredictable," kata dia.
Editor: Aditya Pratama