Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Siap-Siap! Proyek Blok Masela bakal Serap 12.000 Tenaga Kerja
Advertisement . Scroll to see content

Bahlil Pastikan 60% Gas Blok Masela untuk RI, Ekspor Maksimal Hanya 40%

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:31:00 WIB
Bahlil Pastikan 60% Gas Blok Masela untuk RI, Ekspor Maksimal Hanya 40%
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan produksi Blok Masela 60% untuk dalam negeri. (Foto: tangkapan layar)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan sebagian besar produksi gas dari Proyek LNG Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Dari total produksi yang direncanakan, minimal 60 persen dialokasikan untuk pasar domestik, sedangkan maksimal 40 persen dapat diekspor.

Bahlil menjelaskan, Proyek LNG Abadi Blok Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain itu, lapangan gas tersebut juga diperkirakan menghasilkan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari (bcpd).

"Hasil gas yang kita produksi dalam perencanaannya sekitar 1.200 MMBTU. Dari jumlah itu, minimal 60 persen akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40 persen bisa diekspor, sambil melihat perkembangan negosiasi ke depan," ujar Bahlil usai menghadiri groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela, Kamis (16/7/2026).

Dia menegaskan, pemerintah menjadikan ketahanan energi nasional sebagai prioritas utama. Pasokan gas dari Blok Masela akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah industri strategis, termasuk PT Pupuk Indonesia, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT PLN (Persero), serta sektor industri lain yang membutuhkan pasokan gas.

Khusus untuk industri pupuk, pemerintah menginginkan harga gas tetap kompetitif agar mampu mendukung produktivitas nasional. Target harga yang dipatok berada pada kisaran 6 hingga 7 dolar AS per MMBTU.

"Kalau untuk Pupuk, kemarin kita sudah dapat kisaran sekitar 6 sampai 7 dolar AS per MMBTU," katanya.

Di sisi lain, pemerintah masih melakukan pembahasan mengenai harga gas Blok Masela untuk pasar domestik maupun ekspor. Penetapan harga tersebut akan mempertimbangkan berbagai komponen biaya, termasuk pembangunan jaringan pipa gas sepanjang sekitar 180 kilometer yang menghubungkan lapangan lepas pantai dengan fasilitas pengolahan LNG di darat.

"Harga gasnya masih dinegosiasikan. Kalau menggunakan pipa, panjangnya sekitar 180 kilometer. Nantinya dengan fasilitas LNG dan storage, sebagian gas akan ditarik dari laut sehingga bisa dilakukan blending," ujar Bahlil.

Untuk penjualan LNG ke pasar internasional maupun industri, pemerintah akan menggunakan formulasi harga yang mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP). Meski demikian, Bahlil menekankan proses pengolahan gas harus dilakukan di dalam negeri agar nilai tambah ekonomi, lapangan kerja, dan efek berganda dapat dinikmati Indonesia.

"LNG-nya memang akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sehingga biayanya lebih rendah, sementara multiplier effect dan nilai tambahnya terjadi di Indonesia," pungkasnya.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut