Apakah Besok Lebaran? PP Persis Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
JAKARTA, iNews.id - Apakah besok Lebaran, menjadi pertanyaan bagi umat Islam di Indonesia saat ini yang menunggu hasil sidang isbat dari Kementerian Agama, Kamis (19/3/2026) sore ini. Sementara Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah ini menggunakan kriteria Neo MABIMS. Pedoman ini telah dipakai Dewan Hisab dan Rukyat Persis sejak 2012, 10 tahun sebelum diterapkan oleh pemerintah.
"Pada saat itu, kriteria ini dikenal sebagai Kriteria Hisab Imkan Rukyat Astronomis atau Kriteria LAPAN 2011, dengan parameter beda tinggi 4° (setara dengan tinggi hilal 3°) dan elongasi 6,4°," tulis Persis dilansir dari situs resminya.
Sementara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) memperbarui kriteria penetapan awal bulan hijriah sejak tahun 2022, dari kriteria Imkanur Rukyat MABIMS lama, dengan parameter ketinggian hilal 2°, elongasi 3°, atau umur bulan 8 jam, menjadi kriteria Neo MABIMS dengan parameter tinggi bulan minimal 3° dan elongasi 6,4°. Perubahan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan ilmiah.
MUI Ungkap Pentingnya Sidang Isbat: Bentuk Pengaturan dari Negara
Berdasarkan perhitungan Persis, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.26 WIB. Saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0° 53′ 58″ hingga 3° 07′ 15″ dan elongasi 4° 32′ 57″ hingga 6° 06′ 39″.
Dengan kondisi tersebut, Persis menyimpulkan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS belum terpenuhi, sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Idulfitri 2026 Berpotensi Berbeda, MUI: Tunggu Sidang Isbat Pemerintah
"Berdasarkan kriteria tersebut, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” kata PP Persis.
Kemenag Sidang Isbat Hari Ini, Tentukan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah
Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Syawwal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026, dengan menggunakan Kriteria Hisab Global Tunggal (KHGT). Penetapan ini didasarkan pertimbangan pada tanggal 29 Ramadhan 1447 H (18 Maret 2026 versi KHGT), ijtimak belum terjadi. Ijtimak baru terjadi pada tanggal 30 Ramadhan versi KHGT serta kriteria imkan rukyat Turki (tinggi 5° dan elongasi 8°) belum terpenuhi di seluruh belahan bumi. Karena itu, bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.
Menurut Persis, perbedaan ini tentu berpotensi menimbulkan perbincangan, bahkan perdebatan di kalangan umat Islam. Karena itu, diperlukan sikap tasamuh (toleransi) di antara umat dalam menyikapi perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak diharapkan.
Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Idulfitri 1 Syawal 1447 H Besok
PP Persis juga menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menerapkan kriteria Neo MABIMS, sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 tentang Sidang Itsbat. Peraturan ini menyatakan, jika kriteria imkan rukyat tidak terpenuhi, bulan berjalan harus digenapkan menjadi 30 hari.
"Berdasarkan kriteria Neo MABIMS dan ketentuan peraturan, pemerintah diharapkan menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026," ujar PP Persis.
Sementara Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat Kamis sore ini untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H, dengan dasar hisab dan rukyatul hilal.
Editor: Maria Christina