Ancaman Serius Perubahan Iklim di Indonesia, Suhu Makin Panas hingga Pola Hujan Bergeser
JAKARTA, iNews.id - Perubahan iklim di Indonesia mendorong suhu udara ke level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, hal ini memicu lonjakan curah hujan ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai, fenomena tersebut sudah berdampak langsung ke kehidupan masyarakat. Tren perubahan iklim yang terjadi saat ini dibuktikan dengan berbagai analisis.
Pada tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 derajat celsius. Sementara, tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas urutan keenam (27,04 derajat celsius) dalam sejarah pengamatan di Indonesia dengan anomali suhu +0,38 derajat celsius di atas rata-rata periode normal 1991-2020.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, ke depan kondisi iklim Indonesia cukup mengkhawatirkan jika tidak dilakukan langkah mitigasi secara kolektif.
Kemenag Perkuat Ekoteologi sebagai Gerakan Nasional Pendidikan Ramah Iklim
Di masa mendatang peningkatan suhu masih akan terus terjadi, di mana seluruh wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6 derajat celsius pada periode 2021-2050.
Tidak hanya itu, perubahan iklim juga akan mendorong perubahan pola hujan yakni wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi lebih basah (hingga 8 persen), sementara wilayah selatan menjadi lebih kering (hingga -9 persen). Dampaknya, curah hujan yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahun akan terjadi jauh lebih sering di masa depan.
Prabowo Minta Pendidikan Lingkungan Masuk Silabus, Ingatkan Ancaman Perubahan Iklim
“Sebagai contoh, hujan intensitas 250 mm yang tadinya berulang 100 tahun sekali, diprediksi akan muncul setiap kurang dari 20 tahun,” kata Ardhasena saat menjadi pembicara dalam diskusi di Universitas Sumatera Utara dikutip dari laman resmi BMKG, Rabu (11/2/2026).
Ancaman lain juga muncul di Papua, di mana tutupan es di Puncak Jaya menyusut sekitar 98 persen sejak 1988 dan diperkirakan hilang sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027.
Sementara itu, kenaikan muka laut di kawasan pesisir mencapai 4,36 milimeter per tahun. Kondisi ini memperbesar risiko banjir rob serta abrasi di banyak daerah pantai.
Selain itu, Ardhasena menyoroti peristiwa Siklon Tropis Senyar di wilayah Sumatra pada penghujung 2025. Fenomena itu memicu hujan jauh melampaui batas normal dan mencatatkan rekor baru di sejumlah daerah.
Dia menilai, siklon tropis semacam Senyar selaras dengan tren pemanasan global yang terus menguat.
“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya,” tuturnya.
Editor: Aditya Pratama