Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kebakaran di KTT Iklim COP30 Brasil Terjadi saat Pembahasan Isu Krusial, Sabotase?
Advertisement . Scroll to see content

Ancaman Serius Perubahan Iklim di Indonesia, Suhu Makin Panas hingga Pola Hujan Bergeser

Kamis, 12 Februari 2026 - 02:11:00 WIB
Ancaman Serius Perubahan Iklim di Indonesia, Suhu Makin Panas hingga Pola Hujan Bergeser
Perubahan iklim di Indonesia mendorong suhu udara ke level tertinggi sepanjang sejarah. (Foto: Ilustrasi/Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perubahan iklim di Indonesia mendorong suhu udara ke level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, hal ini memicu lonjakan curah hujan ekstrem 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai, fenomena tersebut sudah berdampak langsung ke kehidupan masyarakat. Tren perubahan iklim yang terjadi saat ini dibuktikan dengan berbagai analisis.

Pada tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 derajat celsius. Sementara, tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas urutan keenam (27,04 derajat celsius) dalam sejarah pengamatan di Indonesia dengan anomali suhu +0,38 derajat celsius di atas rata-rata periode normal 1991-2020. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, ke depan kondisi iklim Indonesia cukup mengkhawatirkan jika tidak dilakukan langkah mitigasi secara kolektif. 

Di masa mendatang peningkatan suhu masih akan terus terjadi, di mana seluruh wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6 derajat celsius pada periode 2021-2050.

Tidak hanya itu, perubahan iklim juga akan mendorong perubahan pola hujan yakni wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi lebih basah (hingga 8 persen), sementara wilayah selatan menjadi lebih kering (hingga -9 persen). Dampaknya, curah hujan yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahun akan terjadi jauh lebih sering di masa depan. 

“Sebagai contoh, hujan intensitas 250 mm yang tadinya berulang 100 tahun sekali, diprediksi akan muncul setiap kurang dari 20 tahun,” kata Ardhasena saat menjadi pembicara dalam diskusi di Universitas Sumatera Utara dikutip dari laman resmi BMKG, Rabu (11/2/2026).

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut