AHY Buka Peluang Kolaborasi Internasional, Bangun Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa
ST. PETERSBURG, iNews.id - Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas dalam pengembangan infrastruktur berketahanan iklim (climate-resilient infrastructure). Kolaborasi tersebut termasuk proyek pembangunan Giant Sea Wall yang menjadi salah satu agenda strategis nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Peluang kerja sama tersebut disampaikan AHY saat menjadi pembicara dalam sesi ASEAN-EAEU pada rangkaian St. Petersburg International Economic Forum 2026 di St. Petersburg, Kamis (4/6/2026).
Dalam forum tersebut, AHY menyoroti berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi dunia, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi stabilitas dan pembangunan berbagai negara. Menurutnya, ketahanan tidak lagi dapat dipandang sebagai pilihan, melainkan harus menjadi bagian dari desain pembangunan nasional yang terencana dan berkelanjutan.
“Ketahanan harus dirancang secara sadar melalui pembangunan infrastruktur yang kuat, ketahanan energi, ketahanan pangan dan air, serta kemitraan internasional yang dapat dipercaya,” ujar AHY.
Dia menegaskan Indonesia terus mengedepankan kerja sama dan kolaborasi sebagai bagian dari solusi menghadapi berbagai tantangan global.
“Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memilih untuk membangun persahabatan dengan semua bangsa. Kita percaya pada dialog di atas konfrontasi, kerja sama di atas persaingan, serta kemitraan yang saling menguntungkan bagi semua pihak,” lanjutnya.
Dalam paparannya, AHY menyampaikan tiga prioritas utama pembangunan infrastruktur nasional. Pertama, dekarbonisasi sektor transportasi untuk mendukung target Net Zero Emissions. Kedua, penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan, sistem logistik, dan jaringan perkeretaapian nasional. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk perlindungan kawasan pesisir melalui proyek Giant Sea Wall.
Menurut AHY, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata bagi Indonesia. Banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, hingga penurunan muka tanah di sejumlah wilayah pesisir membutuhkan langkah mitigasi yang terukur, terpadu, dan berjangka panjang.
“Indonesia sedang mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari agenda perlindungan pesisir yang lebih luas, khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan perlindungan fisik, tetapi juga menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat, melindungi mata pencaharian, serta memastikan keberlanjutan ekosistem sosial dan ekonomi di kawasan pesisir,” ujarnya.
Dia menjelaskan, kawasan Pantai Utara Jawa merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi nasional yang berperan penting dalam mendukung sektor industri, perdagangan, logistik, pelabuhan, dan mobilitas masyarakat. Karena itu, perlindungan kawasan pesisir menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional jangka panjang.
AHY menilai proyek Giant Sea Wall membuka peluang kolaborasi internasional yang luas, mulai dari rekayasa pesisir, teknologi perlindungan pantai dan penghalang laut, sistem operasi dan pemeliharaan, teknologi pemantauan lingkungan, hingga penelitian dan pengembangan bersama.
Selain itu, Indonesia juga membuka peluang kerja sama pada sektor energi bersih, transportasi rendah karbon, infrastruktur tahan iklim, sistem logistik berbasis teknologi, serta ekonomi maritim berkelanjutan yang menjadi kebutuhan bersama negara-negara ASEAN dan Eurasia.
“Indonesia terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi yang mampu memperkuat kapasitas nasional sekaligus menghadirkan solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” kata AHY.
Dia menambahkan, tantangan global tidak dapat dijawab hanya melalui pernyataan dan niat baik, tetapi memerlukan implementasi nyata yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kita perlu bergerak dari dialog menuju aksi, dari kerangka kerja menuju proyek nyata, dan dari komitmen menuju hasil yang dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
AHY mengajak negara-negara ASEAN dan Eurasia memperkuat semangat kolaborasi dan kemitraan jangka panjang dalam menghadapi berbagai tantangan global.
“Mari menjadi generasi yang memilih kerja sama di atas fragmentasi, ketangguhan di atas kerentanan, serta kemitraan jangka panjang di atas keuntungan jangka pendek. Mari kita bangun bukan hanya ekonomi yang lebih kuat, melainkan juga kepercayaan yang lebih kokoh di antara bangsa-bangsa,” katanya.
Melalui kerja sama yang semakin erat dengan Rusia dan negara-negara Eurasia lainnya, pemerintah berharap dapat mempercepat pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Editor: Reza Fajri