Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fadli Zon Dikukuhkan Jadi Profesor Kehormatan, Gaungkan Indonesia Pusat Peradaban Dunia
Advertisement . Scroll to see content

Abdul Mu’ti Tekankan 3 Pesan Penting untuk Para Profesor

Senin, 16 Februari 2026 - 22:01:00 WIB
Abdul Mu’ti Tekankan 3 Pesan Penting untuk Para Profesor
Prof Dr Abdul Mu’ti memberikan tiga pesan penting kepada para profesor. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

MEDAN, iNews.id –  Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu’ti memberikan tiga pesan penting kepada para profesor. Menurutnya, profesor tidaklah sekadar pangkat akademik. 

Profesor harus memiliki paling tidak tiga keteladanan. Profesor mestinya menjadi cahaya di tengah gulita, menjadi pemandu di tengah arah tak menentu.

Pesan itu disampaikan Abdul Mu'ti saat memberi arahan pada pengukuhan Prof Dr Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Senin (16/2/2026).

Mengawali arahannya, Abdul Mu’ti yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengutip buku Tom Nichols 'Matinya Kepakaran (The Death of Expertise)' yang menggambarkan bagaimana ilmuwan semakin tersaingi oleh berbagai teknologi. 

Orang yang ingin mencari fatwa agama tidak selalu datang kepada para ulama atau pendeta, tetapi kepada 'Profesor Google'. Terkadang orang mencari fatwa di sana bukan untuk mencari kebenaran, melainkan pembenaran. Orang mengikutinya tanpa ada yang memandu.

“Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu, tidak lagi ditentukan oleh hukum, tetapi ditentukan oleh popularitas dan viralitas. Yang paling banyak mendukung itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal yang viral di media sosial itu sering kali bukan aspirasi sesungguhnya, melainkan aspirasi yang digerakkan oleh robot,” ucap Mu’ti.

Mu’ti juga menyinggung buku Werner Herzog, pembuat film legendaris Jerman, dalam buku nonfiksinya The Future of Truth yang terbit akhir tahun 2025. Buku itu menguraikan panjang lebar mengenai dunia yang semakin tidak menentu. 

Di era digital ini makin sulit membedakan mana fakta dan mana rekayasa, mana fakta dan fabrikasi. Mu’ti menyebutnya sebagai kesulitan membedakan mana yang hak dan mana yang hoaks, mana yang benar dan mana yang salah.

Di bab terakhir dari 11 bab berjudul The Future of Hope, penutup tulisannya hanya berisi dua kalimat, yaitu: “Kebenaran itu tidak punya masa depan, tetapi kebenaran juga tidak punya masa lalu. Namun kita tidak akan, tidak boleh, dan tidak bisa menyerah untuk terus mencari dan menemukannya.”

“Saya cari sampai halaman terakhir The Future of Truth itu, ternyata penutupnya hanya dua kalimat. Di kalimat terakhir bab sebelas itu dia menulis: truth has no future but truth has no past either, but we will not, must not, cannot give up the search for it,” papar Mu’ti.

Di era kecemasan dan kebimbangan itulah kehadiran cendekiawan, tokoh agama, dan rohaniawan tetap sangat diperlukan. Robot tidak bisa membantu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. AI bisa menjelaskan, tetapi tidak bisa menentukan kebenaran secara moral.

Menyitir pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sebelumnya, ia menyebut Guru Besar sebagai capaian perjuangan akademik tertinggi insan muslim dan kader Muhammadiyah, sebagai sosok Ulul Albab, akademisi yang bukan hanya berpikir di permukaan tetapi mampu menyingkap di bawah permukaan.

Mu’ti menyampaikan, dalam Al-Qur’an ditemukan empat istilah yang berkaitan dengan orang-orang cerdas dan berilmu, yaitu Ulul Albab, Ulul Abshor, Ulul ‘Ilmi, dan Ulul Nuha. 

Meski ada perbedaan di antara keempatnya, semuanya menunjukkan orang yang berilmu tinggi dan berwawasan luas. Kedalaman dan kearifan berdasarkan ilmu tetap menjadi penentu dalam banyak hal.

Allah SWT berfirman, katakan Muhammad tidak sama yang buruk dengan yang baik, tidak sama kejahatan dengan kebaikan, walau yang buruk itu sangat banyak dan mengagumkan. Pesan ayat itu agar orang-orang cerdas tidak perlu takut, tetap konsisten walaupun kebenaran tidak banyak pendukungnya.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal, agar kamu beruntung’.” (QS Al-Ma’idah: 100).

Kehadiran ilmuwan dan Ulul Albab penting, memiliki visi jauh ke masa depan, dengan kualitas ilmu yang mampu memandu umat dan masyarakat.

Menurut Mu’ti, kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademik. Profesor harus memiliki paling tidak tiga keteladanan.

Pertama, keteladanan intelektual. Gelar profesor merupakan capaian yang tidak mudah. Karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan sebagai pribadi yang mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.

Kedua, keteladanan sosial. Di perguruan tinggi sering disebut berdampak. Profesor tidak boleh hanya asyik dengan dirinya sendiri. Ia harus menjadi agent of change dan agent of civilization.

Ketiga, keteladanan moral. Profesor harus menjadi agen moral dan spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.

“Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar,” seloroh Mu’ti.

Mu’ti berharap semua pihak memperkuat dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama. Pertama, kebenaran agama (diniyah). Kedua, kebenaran aqliyah atau ilmiah.

“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semakin optimistis bahwa Indonesia akan semakin maju ketika pendidikan Indonesia semakin berkualitas, khususnya pendidikan dasar dan menengah,” ujarnya.

Mu’ti mengakhiri arahannya dengan pantun, “Bunga mekar di pagi hari, menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi, sang pencerah peradaban bangsa.”

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut