Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pakistan Mencekam, Pasukan Pemerintah Bunuh 145 Anggota Kelompok Separatis
Advertisement . Scroll to see content

7 Hari 74 Terduga Teroris Ditangkap, 14 Tewas Ditembak

Senin, 21 Mei 2018 - 22:13:00 WIB
7 Hari 74 Terduga Teroris Ditangkap, 14 Tewas Ditembak
Seminggu pascabom di tiga gereja Surabaya, polisi menangkap 74 terduga teroris di berbagai wilayah Indonesia. (Foto: Divisi Humas Polri)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Rangkaian teror bom bunuh diri mengguncang Surabaya dan Sidoarjo pekan lalu. Belasan orang meninggal dunia akibat peristiwa itu. Sejak ledakan bom di gereja itu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri melakukan rentetan penangkapan di berbagai tempat.

Terhitung sejak 13-20 Mei 2018 atau 7 hari sejak ledakan bom di tiga gereja Surabaya, 74 orang terduga teroris ditangkap. Perincian penangkapan tersebut dipublikasikan Divisi Humas Mabes Polri melalui akun resmi media sosial mereka. Dari 74 orang, 14 tewas ditembak karena diklaim melawan saat hendak ditangkap.

Serangkaian penangkapan tersebut yakni, Jawa Timur 31 orang (4 tewas), Banten dan DKI Jakarta (2 tewas), Lampung 4 orang, Jawa Barat 8 orang (4 tewas), Sumatera Utara 6 orang, dan Riau 9 orang (4 tewas).

Bom meledak di Gereja Maria Tak Bercela Jalan Ngagel, GKI Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuno, Surabaya, Minggu (13/5/2018). Belum selesai penyidikan, ledakan bom bunuh diri juga terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, malam harinya.

Teror belum usai. Keesokan harinya, ledakan bom terjadi di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya. Dari tiga peristiwa ini, masing-masing dilakukan keluarga. Kasus penyerangan oleh terduga teroris juga berlangsung di Mapolda Riau, Pekanbaru, Rabu (16/5/2018).

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sebelumnya mengungkapkan, teror bom bunuh diri baik di Surabaya dan Sidoarjo diduga terkait dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dalang peledakan bom gereja adalah Dita Oepriarto yang diidentifikasi sebagai Ketua JAD Surabaya.

Sementara itu, Mabes Polri juga mengamankan sejumlah orang yang menyebut teror bom bunuh diri dan penyerangan itu sebagai pengalihan isu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan, petugas menangkap sejumlah warganet (netizen) karena dianggap melontarkan ujaran kebencian.
Polri, kata dia, meminta pihak-pihak yang menyebut peristiwa teror di Jawa Timur dan Riau merupakan rekayasa agar dapat memberikan bukti.

"Kalau ada yang bilang rekayasa, sutradara sehebat apapun dari Hollywood, tidak bisa merekayasa kasus (kerusuhan) Mako Brimob, Surabaya, Sidoarjo, Riau. Polri minta bukti siapapun yang menyampaikan bahwa itu (kasus teror) rekayasa. Mana buktinya?" kata Brigjen Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Senin (21/5/2018). Iqbal menyesalkan adanya isu-isu demikian tanpa berlandaskan bukti.

Editor: Zen Teguh

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut