Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pengakuan Aktivis Global Sumud Flotilla Ditangkap Israel, Dilecehkan hingga Dibiarkan Kedinginan
Advertisement . Scroll to see content

2 Jurnalis Republika Ditangkap Tentara Israel saat Ikut Kapal Global Sumud Flotilla

Senin, 18 Mei 2026 - 17:49:00 WIB
2 Jurnalis Republika Ditangkap Tentara Israel saat Ikut Kapal Global Sumud Flotilla
Kapal Global Sumud Flotilla. (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dua jurnalis Republika ditangkap tentara Israel dalam perjalanan misi kemanusiaan Gaza, Global Sumud Flotilla di perairan internasional. Kedua jurnalis itu yakni Bambang Noroyono alias Abeng dan Thoudy Badai. 

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin mengecam penangkapan dua jurnalis tersebut. Menurutnya, tindakan itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza.

"Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti," kata Andi dalam keterangannya, Senin (18/5/2026). 

Andi mengungkapkan, dalam kapal kemanusiaan tersebut terdapat sembilan WNI, termasuk dua jurnalis Republika. 

"Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami," ujarnya. 

"Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Dan kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional," tutur dia. 

Sebelumya, aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Foltilla mengungkap pengakuan mengejutkan setelah ditangkap pasukan Israel di perairan internasional. Mereka mengalami pelecehan seksual, serangan fisik, hingga dibiarkan kedinginan selama berada dalam tahanan.

Sejumlah peserta misi bahkan menyebut perlakuan tersebut dilakukan secara sistematis setelah konvoi bantuan dicegat Israel di lepas Pantai Kreta, Yunani, pada 29 April lalu. Para aktivis mengaku pakaian hangat mereka disita dan akses terhadap makanan, air, serta tempat tidur dibatasi sehingga menyebabkan beberapa tahanan mengalami hipotermia maupun hipertermia.

Penyelenggara misi kemanusiaan GSF II menyatakan para aktivis yang ditahan mengalami kekerasan seksual, serangan fisik, dan perlakuan merendahkan martabat manusia selama berada dalam tahanan Israel.

“(Pelanggaran tersebut mencerminkan) pola perlakuan yang lebih luas, bertujuan untuk merendahkan martabat mereka yang teguh dalam solidaritas dengan rakyat Palestina,” demikian pernyataan GSF, dikutip Jumat (8/5/2026).

Keterangan para peserta yang telah dibebaskan mengungkap adanya pola kekerasan fisik dan seksual yang parah setelah pasukan Israel mencegat konvoi sekitar 900 kilometer dari pantai Jalur Gaza.

Setidaknya empat aktivis dilaporkan mengalami pelecehan seksual selama ditahan. Dua di antaranya disebut mengalami pelecehan berat berupa tindakan menyentuh bagian pribadi mereka.

Selain itu, peserta lain melaporkan serangan berulang pada bagian tubuh sensitif yang disertai pelecehan verbal serta tindakan merendahkan martabat.

GSF juga menyampaikan keprihatinan terhadap dua aktivis yang masih ditahan di penjara Israel, yakni Thiago Avila dan Saif Abu Keshek. Keduanya dilaporkan melakukan mogok makan sebagai bentuk protes atas penahanan tersebut.

Seperti misi pertama pada 2025, GSF II kembali berupaya menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza guna menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Dalam misi kali ini, GSF melibatkan lebih banyak kapal dan aktivis internasional. Sekitar 1.000 aktivis dari 70 negara ikut ambil bagian menggunakan sekitar 50 kapal yang sebagian besar berangkat dari Barcelona, Spanyol. 

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut