Kekeringan Landa Klender Jaktim, Warga Keluhkan Air Mulai Sulit dan Berbau
JAKARTA, iNews.id - Kekeringan di musim kemarau melanda kawasan Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim). Warga RT 07/10 mengeluhkan penurunan debit air dan mulai tercium bau tidak sedap.
Salah seorang warga, Gimun Priyadi (48) menuturkan sumber air yang umum dipakai oleh warga di permukimannya merupakan air tanah yang diperoleh dengan mesin pompa air di masing-masing rumah. Semenjak kemarau panjang hingga Oktober 2023 ini, Gimun mengatakan debit air mengecil.
"Biasanya dalam satu menit (mengisi air) itu satu ember, ini lima menit baru dapat satu ember, sekitar 25 liter lah," kata Gimun, Senin (16/10/2023).
Dia mengungkapkan kondisi tersebut telah berlangsung dua bulan belakangan. Dia mengaku kesulitan jika harus menggali kembali sumur air guna menambah kedalaman. Pasalnya, lokasi permukiman tersebut dahulunya merupakan rawa dan bekas tempat pembuangan sampah.
24 Daerah di Jabar Terkena El Nino, 300.000 KK Terdampak Kekeringan
"Airnya juga tidak bersih lagi. Airnya berbau tanah dan lumpur, meski tampilannya tidak seperti baunya. Soalnya di sini kan bekas rawa dulunya," ucap Gimun.
Dia menuturkan kebutuhan air bersih saat ini sementara dibantu oleh sejumlah petugas berwajib yang ada di sekitaran lingkungannya.
"Bantuan datang berupa air bersih dari Polsek (Duren Sawit) dan Polres Jaktim, itu pun sekitar tiga minggu yang lalu. Kalau dari Pemkot dan lainnya, belum ada sih bantuannya," katanya.
Sedangkan untuk konsumsi dan kebutuhan memasak, Gimun menjelaskan warga harus membeli air isi ulang atau galon kemasan bermerek.
"Untuk konsumsi, kita di sini membeli air galon atau isi ulang saja. Jadi kekeringannya ini berdampak pada kecilnya air yang keluar," ujarnya.
Gimun mewakili warga sekitar berharap agar Pemerintah Kota Jakarta Timur dapat mengulurkan bantuan guna menjamin kebutuhan air bersih di lingkungannya.
“Berharapnya ya ada bantuan dari pemerintah atau dibuatkan saluran PAM atau sumber air dari sumur yang lebih dalam yang sumbernya lebih besar, karena kalau seperti ini solusinya harus gali lebih dalam lagi,” tutur Gimun.
Selain kesulitan air, musim kemarau di Indonesia juga dapat berimbas pada munculnya beragam penyakit. Hal ini karena menurunnya daya tahan tubuh di kala tingginya suhu udara panas. Selain suhu panas, musim kemarau juga membuat kualitas udara tidak sehat sehingga mengakibatkan berbagai macam penyakit akan mengintai.
Salah satu penyakit yang muncul ketika musim panas atau kemarau yakni diare. Hal itu juga disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Griffith University Australia, dr Dicky Budiman. Menurutnya cuaca panas secara tidak langsung menyebabkan beberapa penyakit, seperti infeksi saluran cerna dan diare.
"Kenapa? Karena saat situasi kering dan panas, orang merasa haus dan sering membeli minuman yang dingin. Tapi permasalahannya minuman yang dikonsumsi tidak lah memenuhi standar kesehatan," ujar dr Dicky beberapa waktu lalu.
Editor: Rizal Bomantama