Demonstrasi Rawamangun Bergerak di Depan UNJ, Ini 3 Tuntutan Mahasiswa
JAKARTA, iNews.id - Ratusan orang yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Bersama Rakyat (Gemarak) menggelar demonstrasi di sekitar kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (28/2/2024). Aksi bertajuk Rawamangun Bergerak itu dimuali pukul 14.28 WIB hingga menjelang magrib.
Massa berorasi dan membacakan tiga tuntutan di depan gerbang UNJ disertai membakar ban. Para orator membacakan tuntutan yang semuanya mendesak pemakzulan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Kita satuan barisan menyuarakan hal yang sama, yaitu pertama, turunkan harga bahan pokok, kemudian turunkan biaya pendidikan dan kesehatan. Terakhir, turunkan Jokowi," ujar Komandan Green Force UNJ Bidang Sosial Politik, Muhammad Kholid Hidayatulloh.
Dia menambahkan, pemerintahan saat ini terkesan acuh dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ini bisa dilihat dari maraknya pembagian kekuasaan yang dinilai tidak etis saat harga kebutuhan pokok sedang melonjak.
Guru Besar UNJ Ikut Aksi Rawamangun Bergerak: Kampus Harus Bersuara yang Benar!
"Kemudian sekarang juga pemerintah lagi bagi-bagi kekuasaan yang menunjukkan bahwa pemerintahan tidak etis. Seharusnya mereka melihat rakyat kecil yang semakin tercekik, bahan pokok yang semakin tinggi,' ujarnya.
Aksi itu tidak hanya dihadiri massa mahasiswa dari UNJ, namun gabungan aliansi kampus-kampus di Jabodetabek.
Turun ke Jalan, Mahasiswa UNJ Keluhkan Tingginya Biaya Pendidikan
"Teman mahasiswa yang tergabung dari wilayah seperti Tangerang, Karawang, Jaksel, Jakpus, dan Jaktim, di sini kita bekerja sama untuk melaksanakan aksi simbolis, yaitu Seruan Rawamangun yang bertujuan untuk memastikan sebuah pergerakan di beberapa daerah lainnya," ujarnya.
Kholid melanjutkan, aksi yang diikuti sekitar 450 orang tersebut juga didukung dan dihadiri sivitas akademika dan dosen-dosen UNJ.
"Kita juga bekerja sama dengan sivitas akademika, yaitu guru besar kita Pak Profesor Hafidz Abbas dan Pak Ubedillah, juga beberapa dosen lainnya," jelas Kholid.
Editor: Anton Suhartono