Delik RCTI: Rusaknya Sekolah Kami
JAKARTA, iNews.id - Sebagai provinsi yang tak jauh dari Ibu Kota Jakarta, Banten menyimpan segudang persoalan pembangunan. Pendidikan, salah satunya.
Madrasah Ibtidaiyah An Nazwa di Desa Cikadongdong, Lebak menjadi contoh salah satu sekolah yang jauh dari kata layak. Hanya berdindingkan batang kayu dan bambu, sekolah ini kian lapuk termakan usia.
Meskipun sudah berdiri sejak 7 tahun lalu, namun nyatanya tidak ada perbaikan sarana dan prasarana. Kurangnya bangku dan kursi yang layak juga membuat siswa harus duduk saling berhimpitan demi sekadar mendapat pendidikan.
Kondisi serupa juga terjadi pada sekolah di Kampung Sariak Layung, Desa Peucang Pari, Kecamatan Cigemblong, Lebak. Madrasah ini viral sejak beberapa bulan lalu karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Para siswa di sekolah ini ternyata belajar dengan duduk di lantai tanah.
Kini siswa madrasah Sariak Layung sedikit beruntung. Mereka tak lagi duduk di lantai tanah setelah mendapatkan bangku dan meja pihak swasta, bukan pemerintah.
Sekolah ini sesungguhnya merupakan hasil swadaya warga setempat agar memiliki tempat belajar yang tak jauh dari desa mereka. Sayangnya niat baik warga dengan mendirikan sekolah tidak disambut baik pemerintah daerah setempat.
Berdasarkan data Kemendikbud 2017–2018, ada lebih dari 148.000 sekolah dasar di Indonesia, namun hanya 26 persen ruang kelas yang dalam kondisi baik. Begitu pun dengan sekolah menengah pertama, dari 28.000 SMP, hanya 36 persen ruang kelas dalam kondisi baik.
Kesadaran membangun sekolah secara swadaya adalah contoh nyata masyarakat yang ingin merdeka dari buta huruf dan haus akan ilmu pengetahuan.
Namun sayangnya niat baik dari warga tidak berjalan baik. Pemerintah sangat lambat merespons dengan berbagai alasan. Bukankah mendapatkan pendidikan adalah hak setiap anak negeri? Lantas mengapa pemerintah terkesan begitu abai? Saksikan "Delik: Rusaknya Sekolah Kami" hanya di RCTI, Minggu tengah malam ini.
Editor: Zen Teguh