Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jalan DI Pandjaitan Jaktim Banjir, Sejumlah Motor Mogok gegara Terobos Genangan
Advertisement . Scroll to see content

8 Banjir Besar Jakarta, Begini Kedahsyatannya

Senin, 05 Februari 2018 - 19:39:00 WIB
8 Banjir Besar Jakarta, Begini Kedahsyatannya
Banjir besar menerjang Jakarta pada 2015 lalu. (iNews.id/Yudistiro Pranoto)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Hujan deras di kawasan Bogor dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir memicu luapan Sungai Ciliwung. Kondisi ini memicu banjir di sejumlah wilayah Jakarta. Pantauan pada Senin (5/2/2018), banjir kiriman dari Bogor membuat beberapa titik tergenang, antara lain Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Diperkirakan 11 wilayah yang diprediksi berpotensi mengalami banjir terparah, yakni, Srengseng Sawah, Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Pejaten Timur, Kebon Baru, Bukit Duri, Balekambang, Cililitan, Bidara Cina, dan Kampung Melayu.

"Dengan status Siaga 1 Bendung Katulampa, warga di sekitar Sungai Ciliwung diimbau untuk waspada," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin (5/2/2018).

Dalam sejarahnya, banjir tak pernah hilang dari Jakarta. Berbagai literatur menyebutkan, pada masa lampau banjir pernah terjadi pada 1621, 1872, 1878, 1909, 1918, 1923, 1932, dan 1959. Bahkan pada abad ke-5 ketika Jakarta berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, wilayah ini telah kerap terendam banjir saat puncak musim hujan. Tulisan di Prasasti Tugu yang ditemukan di Jakarta Utara pada 1878 menjadi bukti otentik bahwa Jakarta sudah mengalami banjir sejak dahulu kala.

Seiring perkembangan zaman, banjir tak lagi karena semata faktor alam, namun juga dipicu kerusakan lingkungan dan pengelolaan kota seperti drainase yang buruk dan makin tergerusnya daerah resapan akibat laju pembangunan.

Berikut 8 banjir terbesar yang pernah terjadi di Jakarta:

1872
Hujan deras yang mengguyur Batavia selama beberapa hari menyebabkan Kali Ciliwung meluap. Banjir pun merendam sejumlah wilayah, termasuk kawasan elite Harmoni. Banjir besar itu juga menyebabkan pintu air di sekitar Taman Wilhelmina (saat ini dekat Masjid Istiqlal) jebol. Banjir besar inilah yang kemudian mengilhami pemerintah kolonial Belanda membangun Bendung Katulampa.

Bendung Katulampa menjadi semacam sistem peringatan dini banjir yang akan menerjang Jakarta akibat luapan Ciliwung sehingga para pejabat tinggi Hindia-Belanda bisa mengantisipasi. Bendung Katulampa mulai dibangun pada 1889 dan dioperasikan 1911.

"Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten. (Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup." (Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912).

1918
Hujan deras berlangsung 22 hari dari Januari hingga awal Februari 1918. Lapangan Banteng (Waterlooplein), Tanah Tinggi, Kemayoran Belakang, Glodok, dan Kampung Lima menjadi kawasan terparah yang terendam. Banjir makin mengerikan saat Kali Grogol meluap. Ribuan rumah terendam dan ratusan ribu warga mengungsi di beberapa tempat seperti Pasar Baru dan Weltevreden (Menteng). Selama beberapa hari aktivitas warga terhambat.


1979
Banjir terbesar setelah 1918. Hujan deras pada pertengahan Januari menyebabkan banjir yang menggenangi ribuan hektare wilayah DKI. Tercatat sekitar 714.861 warga terpaksa mengungsi. Jakarta Selatan yang biasanya relatif aman pun tak berdaya. Dalam buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa disebutkan bahwa pada tahun ini Pondok Pinang bahkan terendam 2,5 meter dan 3 orang menjadi korban. Hingga 23 Januari 1979, jumlah korban hilang mencapai 20 orang. Gubernur Tjokropranolo menyebut banjir 1979 adalah banjir 12 tahun sekali.

1996
Banjir Jakarta pada 1996 menjadi bencana nasional setelah merendam hampir seluruh wilayah Ibu Kota. Curah hujan tercatat sampai 300 mm/hari. Di beberapa titik, ketinggian air bahkan mencapai 7 meter. Kawasan di pinggir Kali Ciliwung seperti Kampung Melayu dan Bidara Cina termasuk yang paling parah terendam. Banjir pada kurun 9-11 Februari ini menyebabkan 20 orang tewas dan 30.000 orang lainnya terpaksa mengungsi.

2002  
Hujan deras dari 27 Januari hingga 1 Februari 2002 menyebabkan banjir besar di ibu kota. Ribuan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka terendam. Banjir juga menyebabkan jantung kota lumpuh karena jalan protokol terendam. Data BPPD DKI menyebutkan, 42 kecamatan dan 168 kelurahan tergenang. Korban jiwa mencapai 25 orang.

2007
Banjir besar kembali melanda Jakarta setelah hujan deras mengguyur selama berhari-hari. Puncaknya pada awal Februari, banjir merendam sekitar 60 persen lebih wilayah Jakarta. Pusat bisnis lumpuh, lalu lintas terputus, dan sekolah diliburkan. Banjir juga menyebabkan gardu listrik terpaksa dimatikan. Hal ini berdampak pada ratusan jadwal penerbangan domestik dan internasional yang terpaksa dibatalkan. Selama empat hari, Jakarta lumpuh total. Lebih dari 300 ribu orang mengungsi dan 80 orang tewas. Kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun.

2013
Jakarta dinyatakan darurat setelah banjir besar menggenangi hampir seluruh wilayah. Kejadian ini mirip peristiwa banjir 2007. Ribuan orang terpaksa mengungsi karena rumah-rumah mereka terendam. Selain curah hujan tinggi, banjir diperparah sistem drainase yang buruk ditambah jebolnya tanggul beberapa sungai. Lebih dari 33.500 warga terpaksa mengungsi. Data BPBD DKI, sekitar 20 orang meninggal dunia. Kerugian akibat banjir diperkirakan Rp20 triliun.

2015
Sebanyak 52 titik di lima wilayah Jakarta terendam banjir. Kawasan terparah antara lain Kampung Melayu, Bidara Cina, Kelapa Gading, Mangga Dua, dan Grogol. Banjir juga merendam Bundaran HI, Jalan Thamrin, hingga Medan Merdeka Barat. Akibat banjir, beberapa perjalanan KA Commuter Jabodetabek terhambat karena genangan air melanda Stasiun Jakarta Kota, Sudirman, dan Kampung Bandan. Banjir tersebut juga membuat delapan koridor Transjakarta berhenti beroperasi.  Tak hanya itu, banjir turut mengenangi Balai Kota Jakarta dan Istana Merdeka. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp15 triliun.

Editor: Zen Teguh

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut