MINSK, iNews.id - Tentara bayaran Wagner yang berada di Belarusia disebut diberikan paspor baru. Paspor itu berisi nama yang berbeda dari nama asli para tentara bayaran itu.
Politikus oposisi Belarusia Pavel Latushko menyebut tentara Wagner itu bisa masuk ke semua negara Uni Eropa dengan paspor baru itu.
Israel Gunakan Senjata di Gaza Penyebab Ribuan Jasad Warga Palestina Menguap Lenyap
"Kami memiliki informasi yang terkonfirmasi bahwa anggota kelompok Wagner sedang diberikan paspor Belarusia, dokumen asli. Namun dikeluarkan dengan nama-nama lain," kata Latushko seperti dikutip dari Ukrayinska Pravda, Rabu (30/8/2023).
Latushko yang juga merupakan kepala organisasi Manajemen Krisis Nasional dan Wakil Kepala Kabinet Transisi Bersatu Belarus, menyebut paspor baru itu rentan disalahgunakan.
Tes DNA Rampung, Rusia Pastikan Bos Grup Wagner Yevgeny Progozhin Tewas
"Mereka dengan mudah dapat memasuki Uni Eropa melalui perlintasan perbatasan untuk melakukan sabotase dan tindakan teror," katanya.
Ribuan tentara Wagner masih berada di Belarusia meski pimpinannya Yevgeny Prigozhin tewas dalam kecelakaan pesawat. Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, ingin para tentara tetap tinggal di negara tersebut tapi disebut kekurangan sumber daya keuangan.
Ketika Joe Biden Ditanya soal Penyebab Jatuhnya Pesawat Bos Wagner Prigozhin
Warga Amerika Serikat (AS) di Belarus sebelumnya juga didesak untuk meninggalkan negara itu menggunakan penyeberangan perbatasan dengan Lituania dan Latvia atau dengan pesawat.
"Warga negara AS tidak diizinkan memasuki Polandia melalui darat dari Belarusia. Jangan bepergian ke Rusia atau ke Ukraina,” tulis keterangan resmi AS, Selasa (22/8/2023).
Pemerintah Polandia, Lituania, dan Latvia mengisyaratkan penutupan lebih lanjut perbatasannya dengan Belarusia.
Ketegangan antara Belarusia, negara sekutu dekat Rusia, dengan Polandia, Lituania, dan Latvia meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena kehadiran kelompok paramiliter Wagner, yang berlindung di Belarusia.
Wagner Group pindah ke Belarusia setelah memberontak terhadap Moskow pada Juni.
Editor: Muhammad Fida Ul Haq