Trump Sebut Board of Peace Lembaga Berpengaruh: Anggotanya Para Pemimpin Terhebat!
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan pembentukan Board of Peace atau Dewan Perdamaian merupakan hal paling penting selama masa kepresidenannya. Trump akan mengawal terus lembaga ini selama menjabat presiden.
"Dewan Perdamaian adalah salah satu hal terpenting dan paling berpengaruh, menurut saya, yang akan saya ikuti," kata Trump, dalam pidatonya di pertemuan perdana Board of Peace di Institut Perdamaian AS, Washington DC, Kamis (19/2/2026).
Trump menambahkan Board of Peace akan menjadi lembaga paling berpengaruh, terutama dalam hal kekuasaan dan prestise.
"Belum pernah ada yang mendekati ini, karena ini adalah para pemimpin dunia terhebat. Hampir semua orang telah diterima (bergabung), serta yang belum menerima," ujarnya.
Vatikan Tolak Gabung Board of Peace Bentukan Trump, AS Kecewa
Prospek Perdamaian Gaza
Trump mengatakan situasi di Gaza sangat kompleks seraya berterima kasih kepada utusan khusus AS Steve Witkoff, menantunya, Jared Kushner, Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance, seraya menyebut mereka tim terbaik untuk mewujudkannya.
Prabowo-Trump Teken Tarif Dagang usai Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian Gaza
"Kita bekerja sama untuk memastikan masa depan Gaza yang lebih cerah, Timur Tengah, serta seluruh dunia," ujarnya.
Trump menambahkan sebagian besar anggota Board of Peace adalah para pemimpin yang sangat dihormati. Selain itu sebagian dari mereka adalah pemimpin negara-negara Timur Tengah dan sangat dermawan dalam hal uang.
"Tidak ada yang lebih penting daripada perdamaian,” katanya.
Pertemuan perdana Board of Peace dihadiri puluhan kepala dan pejabat negara anggota Board of Peace, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto.
Trump mengumumkan pembentukan Board of Peace dan mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung, namun hanya sekitar setengah yang menyambutnya.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, perwakilan dari lebih dari 20 negara akan menghadiri pertemuan perdana tersebut.
Editor: Anton Suhartono