MANDALAY, iNews.id – Polisi Myanmar menangkap sedikitnya 27 demonstran yang turun ke jalan dalam aksi penolakan kudetamiliter, Selasa (9/2/2021), di kota terbesar kedua negara itu, Mandalay. Seorang jurnalis termasuk di antara mereka yang ditangkap.
Jurnalis tersebut berasal dari Suara Demokratis Burma (DVB), dan mengonfirmasi dirinya telah ditahan setelah merekam unjuk rasa. Dua organisasi media lainnya membenarkan penangkapan tersebut, dia menyebut orang-orang dipukuli oleh polisi.
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Reuters melansir, Selasa (9/2/2021), para pengunjuk rasa menentang kudeta oleh militer Myanmar yang menggulingkan pemimpin sipil terpilih, Aung San Suu Kyi. Mereka yang berasal dari berbagai kalangan dan profesi juga menentang aturan baru militer, yang memberlakukan jam malam dan melarang kegiatan perkumpulan lebih dari lima orang.
Unjuk rasa besar-besaran selama empat hari berturut-turut itu telah melumpuhkan sejumlah layanan, mulai dari rumah sakit, sekolah dan kantor pemerintah. Penanganan Covid-19 di Myanmar pun jadi kacau balau dan terganggu lantaran para dokter dan tenaga kesehatan juga ikut unjuk rasa, bahkan ada yang mogok kerja.
Dokter Ikut Demonstrasi Tolak Kudeta Militer, Penanganan Covid-19 di Myanmar Kacau
Dalam unjuk rasa di ibu kota Myanmar, Naypyitaw, polisi menembakkan meriam air ke barisan orang-orang yang menolak bubar. Video yang beredar luas di Facebook juga menunjukkan polisi menghalau kerumunan besar di Bago, kota terbesar keempat Myanmar.