Takut Ditembak Iran, Kapal-Kapal Tanker Ogah Lewati Jalur Selat Hormuz Pilihan AS
NEW YORK, iNews.id - Kapal-kapal tanker dan kargo dilaporkan menghindari jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute pilihan Amerika Serikat (AS) setelah konflik terbaru dengan Iran meletus. Kekhawatiran menjadi sasaran serangan membuat banyak kapal beralih ke jalur yang disetujui Iran di sisi utara perairan tersebut.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga nyaris lumpuh pada Kamis (9/7/2026). Situasi ini terjadi setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (8/7/2026) malam waktu setempat, yang merupakan serangan kedua dalam pekan ini dengan sasaran kota-kota pesisir selatan Iran.
Berdasarkan data situs pelacakan pelayaran Kpler yang dikutip Bloomberg, hampir seluruh pergerakan kapal tanker dan kargo kini terkonsentrasi di rute dekat pantai utara Iran. Itu pun hanya sedikit kapal yang melintas.
Sebaliknya, jalur yang didukung AS di sepanjang pantai Oman hampir tidak menunjukkan aktivitas pelayaran.
Hanya terlihat satu kapal kargo berbendera Iran serta sebuah kapal tanker jenis very large crude carrier (VLCC) yang berlayar dari Teluk. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan masih ada kapal lain yang melintas dengan menonaktifkan transponder untuk menghindari pelacakan.
Data Kpler menunjukkan, hanya 14 kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz di kedua arah sepanjang Rabu (8/7/2026). Jumlah tersebut menjadi yang terendah sejak AS dan Iran menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad mengenai gencatan senjata pada 17 Juni.
Sebagai perbandingan, rata-rata terdapat 34 kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 3 pekan setelah penandatanganan MoU tersebut. Aktivitas pelayaran bahkan sempat mencapai puncaknya pada 24 Juni dengan 59 kapal tanker melintas dalam sehari.
Dalam kondisi normal, ketika konflik bersenjata berlangsung, biasanya kurang dari 20 kapal melintasi selat strategis itu setiap harinya. Penurunan hingga hanya 14 kapal menunjukkan besarnya dampak eskalasi terbaru terhadap arus perdagangan energi global.
Selain penurunan jumlah kapal, gangguan elektronik juga terdeteksi di kawasan Teluk Oman. Sejumlah kapal yang berada di lepas pantai Oman terpantau bergerak dengan kecepatan sedikitnya 30 knot.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya aktivasi sistem pertahanan untuk mengantisipasi serangan drone terhadap infrastruktur vital. Penggunaan sistem itu berpotensi mengganggu sinyal transponder kapal sehingga menyulitkan pemantauan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Editor: Anton Suhartono