Partai Koalisi Israel Akan Bubarkan Parlemen, Nasib Netanyahu di Ujung Tanduk
TEL AVIV, iNews.id - Koalisi pemerintahan Israel mengajukan pembubaran parlemen Knesset yang membuka jalan bagi digelarnya pemilu dini. Langkah dramatis ini dinilai bisa mengancam masa depan politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang kini berada di ujung tanduk.
RUU pembubaran parlemen diajukan pada Rabu (13/5/2026) malam waktu setempat di tengah pecah kongsi partai-partai koalisi pendukung Netanyahu. Jika disahkan, Israel akan menggelar pemilu lebih cepat dari jadwal semula pada Oktober mendatang.
Keretakan koalisi dipicu kemarahan kelompok sayap kanan dan kalangan Yahudi ultra-ortodoks atau Haredi terhadap Netanyahu terkait isu wajib militer. Mereka kecewa karena pemerintah gagal meloloskan aturan yang membebaskan mahasiswa yeshiva Haredi dari wajib militer.
“Ofir Katz, ketua koalisi yang juga anggota Partai Likud yang dipimpin Netanyahu, bersama seluruh pemimpin partai koalisi, mengajukan RUU untuk membubarkan Knesset ke-25 malam ini,” demikian laporan stasiun televisi pemerintah KAN, dikutip Kamis (14/5/2026).
Sakti! Badan Intelijen Israel Tahan Wakil Sekjen PBB di Bandara Ben Gurion
Menurut isi RUU tersebut, jadwal pemilu akan diputuskan dalam pembahasan di komite Knesset.
Sebelumnya, Netanyahu memberi tahu kelompok Haredi di parlemen bahwa dirinya kesulitan mendapat dukungan untuk mengesahkan RUU pembebasan wajib militer bagi mahasiswa yeshiva. Tekanan datang dari kelompok kiri dan nasionalis Israel yang menuntut seluruh warga, termasuk Haredi, tetap mengikuti wajib militer tanpa pengecualian.
Pertama Kali, Israel Sahkan UU Bentuk Pengadilan Khusus untuk Pasukan Elite Hamas
Merespons situasi itu, kelompok Haredi mengancam akan mendukung pembubaran parlemen dan mempercepat pemilu jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Tak lama berselang, partai oposisi Yesh Atid yang dipimpin Yair Lapid serta Partai Demokrat pimpinan Yair Golan ikut mengajukan RUU serupa untuk membubarkan Knesset.
Langkah itu memperbesar peluang voting pembubaran parlemen dilakukan pekan depan. Para pengamat menilai oposisi Israel kini mencoba menyelaraskan kekuatan dengan kelompok Haredi untuk menjatuhkan Netanyahu melalui pemilu dini.
Jika pemilu benar-benar digelar dalam waktu dekat, posisi Netanyahu sebagai perdana menteri diperkirakan akan menghadapi ujian politik paling berat dalam beberapa tahun terakhir.
Editor: Anton Suhartono