Militer Yunani Siaga Tingkat Tinggi, Ketegangan dengan Turki Meningkat
ATHENA, iNews.id - Yunani menempatkan militernya dalam status siaga level tertinggi menyusul meningkatnya ketegangan dengan Turki terkait eksplorasi cadangan energi lepas pantai Mediterania timur.
Dilansir dari Guardian, Jumat (14/8/2020), Yunani meminta para personel angkatan laut dan udara yang tengah berlibur kembali ke pangkalan militer masing-masing lebih cepat.
Permintaan tersebut setelah mendapat laporan Turki mengirimkan Oruc Reis, kapal bor, yang dikawal oleh kapal perang untuk melakukan penelitian seismik di perairan yang jadi sengketa.
Yunani sudah meminta Turki untuk menghentikan aktivitas "ilegal", mengintensifkan tekanan diplomatik yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Eropa, Prancis, dan Israel untuk mengungkapkan kecemasan mengenai situasi tersebut.
Kapal Tanker Yunani Dibajak di Afrika, 13 Kru Asal Rusia dan Ukraina Disandera
Dalam keterangan resminya, Pemerintah Yunani menegaskan langkah yang diambil dengan menyiagakan kekuatan militernya sebagai bukan bermaksud memperlihatkan ancaman, melainkan sesuai prosedur pertahanan negara.
"Negara kami tidak mengancam negara manapun, tetapi tidak juga bisa diperas," kata Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis.
Turki Ubah Hagia Sophia sebagai Masjid, Yunani Jadikan Rumah Kemal Ataturk Museum Genosida
"Biar diketahui semua orang: risiko insiden terletak pada saat menunggu ketika begitu banyak pasukan militer berkumpul di daerah terbatas," lanjutnya.
Pada Kamis (13/8/2020) kemarin, Mitsotakis mendapat kabar baik dari Emmanuel Macron yang mengatakan akan memperkuat kehadiran militer Prancis di daerah tersebut. Macron menyebut Yunani sebagai "teman sejati" dan pelindung kuat nilai-nilai Eropa serta hukum internasional.
PSK Yunani: Kami Dilarang Jabat Tangan, padahal di Dalam Kamar Semuanya Terjadi
"Prancis akan memperkuat sementara kehadiran militernya, untuk memantau situasi di kawasan (Mediterania) dan menandai tekadnya untuk menegakkan hukum internasional," demikian kicau Macron di media sosial Twitter.
Pernyataan Macron bukan omong kosong, Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis mengonfirmasi pihaknya akan mengirim dua jet tempur Rafale dan satu kapal fregat angkatan laut ke Mediterania timur.
Bulan lalu, Macron menyerukan sanksi Uni Eripa terhadap Turki atas apa yang dia gambarkan sebagai "pelanggaran" kedaulatan Yunani dan Siprus atas teritori perairan mereka.
Editor: Arif Budiwinarto