Menhan Pakistan: Semoga Pihak yang Beri Izin Israel Tinggal di Tanah Palestina Masuk Neraka!
ISLAMABAD, iNews.id - Menteri Pertahanan (Menhan) Pakistan Khawaja Asif melontarkan pernyataan keras dengan mendoakan pihak yang memberi izin kepada Israel untuk tinggal di tanah Palestina “terbakar di neraka”.
Pernyataan tajam ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan Israel ke Lebanon serta Jalur Gaza.
Asif juga menyebut Israel sebagai negara yang “jahat dan terkutuk bagi umat manusia”, seraya menyinggung praktik genosida yang terus dilakukan militer Zionis.
Dia menegaskan pembantaian terhadap warga sipil terjadi tanpa rasa bersalah, bahkan ketika perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah diupayakan.
Keras! Menhan Pakistan Sebut Israel Terkutuk, Singgung Gaza dan Lebanon
“Pertama Gaza, kemudian Iran, dan sekarang Lebanon, pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti,” tulis Asif dalam pernyataannya di media sosial X, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Kecaman keras tersebut berkaitan dengan serangan Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) yang dalam 2 hari menewaskan lebih dari 300 orang serta melukai sekitar 1.100 lainnya. Serangan itu memperparah situasi kemanusiaan di kawasan yang sebelumnya sudah dilanda konflik berkepanjangan.
Ini Alasan AS Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai Konflik dengan Iran, bukan Turki
Pernyataan Asif juga menyinggung agresi Israel di Jalur Gaza yang sebelumnya telah menewaskan lebih dari 70.000 orang dalam 2 tahun. Sementara itu serangan gabungan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari menewaskan lebih dari 2.000 orang.
Dia menilai rangkaian serangan tersebut menunjukkan pola kekerasan sistematis yang terus meluas di Timur Tengah.
Polemik ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung, di mana Pakistan menjadi tuan rumah sekaligus mediator perundingan damai antara AS dan Iran. Islamabad berharap perundingan tersebut dapat meredakan konflik yang semakin meluas.
Pakistan dan Iran sebelumnya menegaskan bahwa Lebanon seharusnya masuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Namun, klaim itu dibantah oleh pihak AS dan Israel, sehingga memicu ketegangan baru di tengah proses negosiasi.
Editor: Anton Suhartono