Maria Corina Machado Raih Nobel Perdamaian 2025, Simbol Perlawanan Demokrasi Venezuela
OSLO, iNews.id - Maria Corina Machado, aktivis demokrasi sekaligus pemimpin oposisi Venezuela, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025. Komite Nobel menyebutnya sebagai sosok yang selama bertahun-tahun menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan otoriter di Venezuela.
Dilansir dari BBC, Komite Nobel dalam pernyataan resminya di Oslo, Jumat (10/10/2025) mengatakan, Machado diakui atas kerja tanpa lelahnya memperjuangkan hak-hak demokratis bagi rakyat Venezuela. Dia berjuang bagi negaranya untuk mencapai transisi yang adil dan damai dari kediktatoran menuju demokrasi.
Ketua Komite Nobel, Jorgen Watne Frydnes, menyebut Machado sebagai salah satu contoh keberanian sipil paling luar biasa di Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir. Dia menggambarkan Machado sebagai seorang perempuan yang menjaga nyala api demokrasi tetap hidup di tengah kegelapan yang kian pekat.
"Penghargaan ini diberikan kepada seorang pejuang damai yang berani dan berdedikasi. Seorang perempuan yang menjaga nyala demokrasi tetap menyala di tengah kegelapan yang kian menelan bangsanya," kata Frydnes saat membuka acara.
Trump Senyum-Senyum Dijanjikan Nominasi Nobel Perdamaian oleh Musuh Bebuyutan Hillary Clinton
Machado, yang merupakan pemimpin oposisi utama Venezuela, telah lama hidup dalam tekanan. Sejak pemilihan presiden tahun lalu, dia dikabarkan bersembunyi untuk menghindari penangkapan.
Musuh Bebuyutan! Mantan Ibu Negara AS Janji Nominasikan Trump Nobel Perdamaian, tapi...
Meski dibungkam oleh pemerintah, suaranya tetap menggema di kalangan rakyat yang menuntut kebebasan politik dan pemulihan demokrasi.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sempat berkampanye secara publik agar dirinya dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Namun, nominasi Nobel telah ditutup pada Januari lalu, tepat di awal masa jabatan keduanya, sehingga namanya tak termasuk dalam daftar kandidat resmi.
Kamboja Nominasikan Trump Hadiah Nobel Perdamaian Setelah Damaikan Konflik dengan Thailand
Editor: Maria Christina