KUALA LUMPUR, iNews.id – Malaysia pada hari ini menyatakan tidak akan mengakui sanksi sepihak Amerika Serikat terkait dukungan kepada kelompok pejuang Palestina. Sikap itu disampaikan negeri jiran sebagai tanggapan atas rancangan undang-undang (RUU) yang dibuat AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap para pihak asing yang mendukung Hamas.
RUU Pencegahan Pembiayaan Internasional Hamas telah disahkan oleh DPR AS pada pekan lalu. Kini, RUU itu sedang menunggu pengesahan lewat pemungutan suara di Senat AS.
Iran Janji Perluas Perang ke Luar Kawasan Jika AS-Israel Luncurkan Agresi Lagi
Tujuan regulasi tersebut dibuat Amerika adalah untuk menyetop pendanaan pihak asing kepada Hamas dan kelompok pejuang lainnya di Palestina.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengatakan, pemerintahnya memantau dengan cermat perkembangan pengesahan RUU tersebut. Menurut dia, RUU tersebut hanya dapat berdampak pada Malaysia jika Kuala Lumpur terbukti memberikan dukungan material kepada Hamas atau Jihad Islam Palestina.
PM Malaysia Anwar Ibrahim Undang Pemimpin Arab, Turki dan Iran Bahas Konflik Israel-Palestina
“Sanksi apa pun terhadap Malaysia juga dapat memengaruhi penilaian Pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan AS terhadap Malaysia, serta memengaruhi peluang investasi perusahaan-perusahaan AS di Malaysia,” kata Anwar dalam balasan tertulisnya kepada Parlemen Malaysia, Selasa (7/11/2023).
Malaysia telah lama menjadi pendukung vokal perjuangan Palestina dan menganjurkan solusi dua negara terhadap konflik antara Israel dan Palestina. Seperti Indonesia, negara tetangga kita ini juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Ditekan AS karena Bela Hamas, Malaysia: Kami Tak Bisa Anggap Enteng Ini!
Para pemimpin tinggi Hamas di masa lalu sering mengunjungi Malaysia dan bertemu dengan para perdana menterinya.
Anwar sebelumnya juga menolak tekanan Barat untuk mengutuk Hamas dan mengatakan AS telah menyampaikan kekhawatirannya kepada Malaysia mengenai sikap negaranya terhadap Palestina.
Parah! AS Paksa Malaysia Labeli Hamas sebagai Organisasi Teroris
Editor: Ahmad Islamy Jamil