Malaysia Siap Potong Gaji Menteri jika Krisis Timur Tengah Memburuk
KUALA LUMPUR, iNews.id - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mempertimbangkan akan memotong gaji menteri jika krisis Timur Tengah memburuk. Konflik Amerika Serikat (AS)-Iran mereda dengan gencatan senjata serta pembukaan Selat Hormuz, namun tak ada jaminan kondisi ini akan bertahan terus.
Meski demikian Anwar mengakui gaji menteri Malaysia saat ini sudah relatif rendah.
“Yang penting adalah mereka melayani dengan baik,” kata Anwar, seperti dikutip dari The Star, Sabtu (18/4/2026).
Dia menambahkan, sebagai PM yang juga merangkap menteri keuangan, tak masalah gajinya dipotong, bahkan tak dibayar. Namun Anwar tetap memperhatikan kesejahteraan kabinetnya.
PM Malaysia Anwar Ibrahim Temui Prabowo di Istana, Bahas Perang AS-Israel Vs Iran
“Bagi saya, tidak masalah jika tidak menerima gaji. Tapi gaji itu adalah hak mereka selama mereka berkinerja baik, dan saya kira itu wajar," tuturnya.
Dia menegaskan, tak ada halangan untuk memangkas gaji para pejabat jika kondisi mengharuskan.
PM Malaysia: Perang Timur Tengah Bisa Picu Krisis Dahsyat, Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
“Jika situasi ekonomi menjadi memburuk, hal itu dapat dipertimbangkan," ujarnya, saat ditanya wartawan apakah Malaysia akan mengikuti rencana Indonesia memangkas gaji para menteri terkait krisis Timur Tengah.
Malaysia tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi RON 95 selama 2 bulan meski pasar energi terguncang krisis Timur Tengah. Anwar Ibrahim pada awal Maret lalu mengatakan, harga BBM RON 95 bersubsidi akan dipertahankan sebesar 1,99 ringgit atau sekitar Rp8.500.
Perang Timur Tengah, Malaysia Pertahankan Harga BBM Subsidi Rp8.500 Selama 2 Bulan
“Kita akan mencoba mengendalikan dampak konflik Iran, termasuk untuk RON 95, yang harganya 1,99 ringgit per liter,” katanya, saat itu, seraya menambahkan keuangan negara masih bisa bertahan selama 1 atau 2 bulan untuk menyubsidi.
Editor: Anton Suhartono