Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dirawat Sebulan di RS, Mahathir Mohamad Diperbolehkan Pulang 2 Hari
Advertisement . Scroll to see content

Malaysia Akan Hentikan Penggunaan Vaksin Sinovac, Beralih ke Pfizer

Kamis, 15 Juli 2021 - 18:48:00 WIB
Malaysia Akan Hentikan Penggunaan Vaksin Sinovac, Beralih ke Pfizer
Malaysia akan menghentikan penggunaan vaksin Sinovac, beralih ke Pfizer (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

KUALA LUMPUR, iNews.id - Malaysia akan menghentikan penggunaan vaksin Covid-19 Sinovac begitu persediaan habis, tak akan memesan lagi ke China. Negeri Jiran secara bertahap akan beralih menggunakan vaksin mRNA, Pfizer, yang dianggap lebih manjur melawan virus corona.

Menteri Kesehatan Adham Baba mengatakan, Malaysia mulai mendapatkan banyak pasokan Pfizer yang segera dikirim ke negara bagian.

Malaysia telah mendapatkan total 45,7 juta dosis vaksin Pfizer, menjadikan produk perusahaan farmasi Amerika Serikat itu sebagai yang terbesar dibandingkan vaksin lain.

“Kami akan mulai beralih ke vaksin Pfizer-BioNTech. Kami memesan 16 juta dosis vaksin Sinovac, dan setengahnya telah diberikan. Setengah lainnya disimpan untuk dosis kedua," ujarnya, dikutip dari The Star, Kamis (15/7/2021).

Pernyataan itu disampaikan Baba menanggapi pertanyaan soal pengumuman Dinas Kesehatan Kelantan bahwa penggunaan Sinovac akan dihentikan mulai akhir bulan ini.

Malaysia mengalami lonjakan kasus infeksi Covid-19 beberapa pekan terakhir memaksa pemerintah menerapkan kembali lockdown total.

Negeri Jiran mencatat rekor penambahan harian kasus infeksi pada Kamis yakni sebanyak 13.215 orang. Dengan demikian total kasus di Malaysia menjadi 880.782 orang.

Ini merupakan 3 hari berturut-turut Malaysia mencatat rekor penambahan harian kasus infeksi. Pada Selasa lalu, Malaysia melaporkan 11.079 kasus dan keesokan harinya 11.618 kasus.

Lonjakan kasus infeksi Covid di Malaysia dipicu varian Delta dan Alpha. Covid varian Delta yang pertama kali ditemukan di India disebut 55 persen lebih mudah menular daripada Alpha, asal Inggris. Sementara varian Alpha sekitar 50 persen lebih mudah menular daripada varian awal yang terdeteksi di Wuhan, China.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut