FRANKFURT, iNews.id – Bank SentralEropa (ECB) sedang mempersiapkan seluruh bank yang ada di benua itu untuk menghadapi potensi serangan siber yang disponsori Rusia. Langkah itu diambil ketika meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina.
Dua orang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan, persiapan itu dilakukan regulator keuangan Eropa ketika kawasan itu bersiap menghadapi dampak finansial dari setiap konflik. Kebuntuan antara Rusia dan Ukraina telah mengguncang para pemimpin politik dan bisnis Eropa yang khawatir bahwa invasi akan menimbulkan kerusakan di seluruh kawasan Eropa.
Hamas Tolak Laporan Dewan Perdamaian tentang Pelaksanaan Gencatan Senjata di Gaza
Awal pekan ini, Presiden PrancisEmmanuel Macron berangkat dari Moskow (ibu kota Rusia) ke Kiev (ibu kota Ukraina). Macron mencoba mengambil peran sebagai mediator setelah Rusia mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar di dekat Ukraina. Namun, negosiasi yang dilakukan pemimpin Prancis itu tampaknya sia-sia.
Saat ini, ECB terus mewaspadai ancaman serangan dunia maya yang diluncurkan dari Rusia terhadap bank-bank di Eropa. Sementara regulator Eropa fokus pada aksi-aksi penipuan biasa yang berkembang pesat selama pandemi, krisis Ukraina telah mengalihkan perhatian ke serangan dunia maya yang diluncurkan dari Rusia, kata salah satu sumber.
Siap Hadapi Rusia, Ukraina Latihan Perang Pakai Drone Bayraktar Turki
Dia juga mengatakan, ECB telah meminta setiap bank untuk memeriksa kembali pertahanan siber mereka. “Bank-bank (di Eropa) sedang memainkan simulasi perang siber untuk menguji kemampuan mereka menangkis serangan siber,” kata sumber itu.
Sementara, saat ditanyai wartawan terkait masalah ini, ECB menolak berkomentar. Namun, kekhawatiran ECB tentang serangan dunia maya itu terlihat di seluruh dunia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron Terbang ke Moskow Temui Putin, Mau Apa?
Departemen Layanan Keuangan New York pada akhir bulan lalu mengeluarkan peringatan kepada lembaga-lembaga keuangan tentang potensi serangan siber pembalasan jika Rusia menyerang Ukraina dan memicu sanksi Amerika Serikat, menurut informasi intelijen yang diterima Thomson Reuters.
Editor: Ahmad Islamy Jamil