Krisis Global Jadi Topik Hangat Simulasi Sidang PBB di Bangkok, Delegasi Indonesia Mendominasi
BANGKOK, iNews.id – Krisis global mulai dari perubahan iklim, ancaman terhadap kesehatan dunia, konflik internasional, hingga perlindungan hak asasi manusia menjadi topik utama dalam agenda Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) 21st yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 26–29 Juni 2026.
Sebanyak 700 delegasi dari 19 negara ambil bagian dalam forum tersebut, termasuk 486 peserta asal Indonesia. Mereka berperan sebagai diplomat yang mewakili berbagai negara untuk bernegosiasi, menyampaikan pandangan, hingga menyusun resolusi terhadap beragam persoalan dunia.
Mengusung tema The Uncertain World: Rethinking Diplomacy in the Face of Crisis, para delegasi membahas berbagai tantangan global melalui sembilan dewan, di antaranya isu lingkungan hidup, kesehatan, pembangunan berkelanjutan, perdagangan internasional, keamanan global, pemanfaatan ruang angkasa secara damai, hingga hak asasi manusia.

Presiden International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, mengatakan forum tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk memahami kompleksitas persoalan dunia sekaligus belajar membangun kolaborasi lintas negara.
Menurutnya, para peserta datang dari latar belakang budaya, bahasa, dan cara pandang yang berbeda, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni mencari solusi melalui jalur diplomasi.
"Semua peserta berasal dari negara, sekolah, bahasa, dan latar belakang yang berbeda. Namun mereka berkumpul untuk berbicara atas nama negara yang diwakili dan memperjuangkan berbagai isu global. Itulah yang membuat forum ini begitu luar biasa," ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).
Pembahasan mengenai krisis global juga mendapat perhatian dari Associate Economic Affairs Officer United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), Jack Crawford. Dia menilai ketidakpastian dunia saat ini menjadi tantangan yang dirasakan hampir seluruh negara, meski dengan kondisi yang berbeda-beda.
Menurut Crawford, keterlibatan generasi muda dalam forum diplomasi seperti Model United Nations menjadi langkah penting untuk melahirkan pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan internasional.
"Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, para peserta memilih mempelajari diplomasi dan memahami berbagai persoalan global. Melalui forum ini, mereka dapat menemukan isu yang ingin diperjuangkan, bahkan mungkin menjadi tujuan hidup mereka di masa depan," katanya.
Pandangan senada disampaikan Duta Besar Timor-Leste untuk Thailand, H.E. Francisco Tilman Cepeda. Dia menilai dunia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling terhubung sehingga membutuhkan ide-ide segar dari generasi muda.
Menurutnya, forum seperti AYIMUN memberi kesempatan bagi peserta untuk membangun kepercayaan, memperkuat dialog, serta mencari solusi bersama atas berbagai persoalan lintas negara.
Dominasi peserta Indonesia dalam forum tersebut juga menjadi sorotan. Dari total 700 delegasi, sebanyak 486 berasal dari Indonesia, menjadikan mereka salah satu kontingen terbesar dalam simulasi sidang PBB tersebut.
Melalui forum itu, para delegasi tidak hanya mengasah kemampuan berbicara dan bernegosiasi, tetapi juga belajar menyusun kebijakan, membangun konsensus, serta memahami proses pengambilan keputusan dalam diplomasi internasional.
Editor: Muhammad Sukardi